Definition List

Pages

Rabu, 07 Desember 2011

BANJIR JAKARTA BENCANA DALAM KE TIDAK PEDULIAN DAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT
Oleh :
Deni Yudistira

Banjir merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita hampir setiap terjadi hujan media massa ramai-ramai menyuarakan tentang banjir terjadi bi beberapa tempat di Ibukota। Secara umum banjir dapat diartikan sebagai peristiwa disaat melubernya air dalam saluran drainase baik itu drainase alami maupun buatan ke daerah sekitar yang diakibatkan oleh berkurangnya daya layanan drainse dalam mengalirkan muatannya।

Jakarta sebagai ibu kota senantiasa di hiasi oleh banjir baik yang berupa flood way maupun banjir kiriman , lokasi geografis yang dilalui oles sungai-sungai besar dari kota-kota satelit turut serta mengakibatkan banjir seperti yang terjadi pada 1 Februari 2008, banjir yang terjadi bahkan ikut menggenangi kawasan di sekitar istana Negara, selain itu kondisi topografi yang cenderung datar mengakibatkan air hanya bergerak sangat lambat। Proses terjadinya banjir merupakan proses dimana terjadinya kegagalan siklus hidrologi dimana surface flow tidak bisa secepatnya mengirimkan air dengan lancer ke lokasi-lokasi penampungan air seperti waduk, embung dan laut।
Khusus untuk di kota Jakarta banjir terjadi sebagai akibat dari berkurangnya daerah tangkapan air sehingga mengakibatkan coefisien runoff semakin tinggi hal ini disebabkan oleh alih fungsi lahan, dari lahan perkebunan,empang menjadi kompleks perumahan, hal ini berdampak pada siklus hidrologi yang terjadi semakin cepat dimana air yang turun “dipaksa” untuk secepatnya memasuki saluran-saluran drainase. Akibatnya adalah ketika muatan berlebih daya layanan drainase semakin berkurang dan berdampak air meluber ke luar saluran.

Selain itu kondisi penampang saluran yang semakin dangkal yang diakibatkan oleh banyaknya muatan dalam saluran seperti sedimentasi dan sampah turut mempercepat terjadinya banjir sebab ketika arus air akan tertahan oleh sumbatan(sampah) yang mengakibatkan air semakin cepat naik, seperti yang terjadi di salah satu kawasan perkampungan di kelapa Gading Jakarta utara elevasi air dari dasar sungai ke top sungai hanya sekitar 30-40 cm yang diakibatkan oleh sedimentasi yang sangat luar bias besarnya sehingga takala terjadi hujan air cepat naik dan meluber kedaerah di sekitarnya tidak tanggung-tanggung di beberapa bagian bantaran sungai di daerah tersebut elevasi air mencapai kedalaman 15-25 cm*. Kondisi ini selain berdampak pada moda transportasi (baik untuk pejalan kaki maupun pengguna roda dua) ,dan merugikan masyarakat baik dari bidang kesehatan maupun lingkungan.

Problematika ini sunguh sangat memilukan karena letaknya yang berada di ibukota Negara,juga telah banyak program dan dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah baik pusat maupu daerah oleh karena itu penangan banjir di Jakarta diperlukan upaya yang komprehensif dimana perlu dilakukan upaya pencegahan yang massif,sistematis dan terstruktur yang berbasis pada partisipatif masyatakat dengan pendekatan Partisipatory Action Research , sebab tidak hanya terrain yang perlu dilakukan rekayasa tetapi faktor masyarakat pun perlu di benahi karena baik secara langsung masyarakat ikut mempengaruhi sebab hampir disepanjang aliran sungai sampah (baik berupa peralatan rumah tangga, plastik, sisa banguna dll) turut mengapung dipenampang saluran, walaupun tidak akan cukup waktu 5 tahun untuk menciptakan Jakarta bebas banjir namun suatu langkah yang mantap untuk mengeleminir terjadinya banjir perlu di laksanakan secara terintegrasi dan dengan masterplane yang jelas serta adanya dukungan yang continou terhadap Civil Sosiety Organisation(CSO)yang berperan sebagai voluntary baik yang berbentuk lebaga maupun perorangan .


Senin, 07 Februari 2011

MAKALAH


DINAMIKA DAN PROBLEMATIKA BANJIR
PADA PERMUKAAN JALAN RUAS JALAN SETIABUDHI KOTA BANDUNG











Oleh :

Deni Yudistira 050359






JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Jalan merupakan suatu akses yang sangat vital bagi kelangsungan mobilitas umat manusia, selain itu jalan berfungsi untuk sarana pemindahan baik itu berupa barang, manusia, dari suatu tempat ke tempat lain. Dewasa ini perkembangan infrastruktur yang di komandoi oleh kementrian Pekerjaan umum mengalami perkembangan yang sangat signifikan, lebih dari 2000 km jalan baru telah di bangun di ibu pertiwi ini.
Eksistensi jalan sangat mempengaruhi perkembangan pembangunan bangsa ,baik dalam hal ekonomi, sosia, maupun budaya, hal ini tentu saja sangat tergantung dari daya layanan jalan, sehingga dengan keberadaan jalan yang baik maka akan meningkatkan indek pembagunan manusia indonesia.
Kota Bandung sebagai kapital city bagi propinsi jawa barat memegang peranan dalam peningkatan pembangunan bangsa, hal ini dapat kita lihat dari semaraknya lembaga-lembaga pendidikan di kota Bandung, outlet-outlet, dan fashion market yang membentang dari utara hingga keselatan.
Konsekwensi logis dari kondisi objektif dari realita sosial tersebut adalah perlunya infrastuktur yang baik, yang dapat menunjang aktifitas masyarakat kota Bandung dan pendatang , sehingga akan terjadi kenaikan trade baik itu berupa barang maupun non barang.
Salah satu ruas jalan di kota Bandung yang memikiki daya layanan jalan yang tinggi adalah ruas jalan setiabudhi yang menghubungkan kabupaten Bandung Barat dengan kota Bandung, di sepanjang ruas jalan ini terdapat berbagai lembaga pendidikan, biak lembaga pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi mulai dari Universits Pendidikan Indonesia, Universitas Pasundan, STIP, NHI, dll, serta tempat-tempat pembelanjaan berupa outlet-outet pakaian , kuliner, dan tempat parisiwata.
Salah satu problem yang terjadi dan menjadi permasalahan adalah masalah Banjir Cileuncang pada permukaan jalan atau lebih dikenal dengan surface flow, dimana setiap hujan datang maka air akan mengalir melalui jalan ini dan akibatnya kondisi macet tidak dapat terelakan lagi.





Gambar 1.1 Surface flow pada salah satu ruas jalan di kota Bandung

Hal ini tentu saja menjadi penghambat dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik dari segi material, maupun imaterial, yang berupa penambahan waktu tempuh, peningkatan pengeluaran bensin, dan yang paling parah adalah terjadinya mogok pada kendaraan-kendaraan yang telah ujur.
Surface flow tentu saja tidak terjadi secara alamiah tetapi terjadi sebagai akibat dari interfensi manusia di sekitar ruas jalan tersebut, maupun kiriman dari utara, banjir yang terjadi tidak hanya diakibatkan oleh buruknya sistem drainase yang ada, tetapi akibat material yang terdapat dalam drainase tersebut, yang berupa plastik, kayu, dak kabel serat optik.
Oleh karena itu diperlukan suatu solusi untuk menyelamatkan aset bangsa tersebut, guna menakan kerugian yang dialami oleh masyarakat, dan biaya pemeliharaaan yang tiap tahun kian melambung.

1.2 Idenfitikasi Masalah

a. Banjir yang terjadi di sepanjang ruas jala setiabudhi bandung terjadi karena pengaruh manusia.
b. Kebiasaan Membuang sampah ke saluran drainase
c. Topografi ruas jalan di kota bandung terletak di dataran tinggi
d. Perubahan land use di hulu dan disepanjang ruas jalan setiabudhi Bandung.
e. Regulasi dari pemerintah terkait penanganan sistem drainase di kota bandung yang kurang mendukung
f. Curah hujan yang tinggi diikuti dengan durasi hujan yang cukup panjang sekitar 2 jam
g. Tumpang tindih sistem pengelolaan Infastuktur

1.3 . Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini pembatasan masalah banjir di batasi pada akar masalah terjadinya banjir yakni interfensi manusia , sistem drainase,curah hujan, land use, sehingga dalam makalah ini akan dibahas mengenai akar masalah dari Surface flow di sepanjang ruas jalan setiabudhi kota Bandung.

1.4. Perumusan Masalah
Banjir yang terjadi di ruas jalan setiabudhi ini sudah sangat sering terjadi, oleh karena itu dalam penulisan makalah ini akan dibahas mengenai,
1. Mengapa banjir sering terjadi di ruas jalan setiabudhi kota Bandung?
2. Apa dampak banjir yang melanda ruas jalan setiabudhi kota bandung?
3. Bagaimana strategi untuk mencegah terjadinya banjir di ruas jalan setiabudhi?

5. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan akar masalah terjadinya banjir di sepanjang ruas jalan setiabudhi kota Bandung
2. Memberikan contoh alternatif solusi untuk mencegah banjir di sepanjang ruas jalan setiabudhi kota Bandung





BAB II
TINAJUAN PUSTAKA
2.1 Data Umum
Ruas Jalan setiabudhi membentang dari Kecamatan Sukajadi, Hingga Cidadap dan berakhir di pintu gerbang kabupaten Bandung Barat tepatnya di Kecamatan Lembang, ruas jalan ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985, merupakan sistem jalan raya primer,sehingga jalkan ini diperuntukan untuk kendaraan seperti bus, truk 2 as truk 3, truk gandengan semi trailer dengan kecepatan 60 kilometer sampai 120 km/jam, serta untuk tingkat kepadatan lalu lintas yang sangat tinggi

Gambar 2.1 Peta Ruas Jalan Setiabudhi Bandung
Sumber : Google Map
Kondisi Topografi pada ruas jalansetiabudhi merada pada ketinggiaan antara 950-980 mean sea level(MSl), sehingha derngan kondisi tersebut jalan ini sesuai dengan Supratman Agus (2002) dikategorikn memiliki klasifikasi Bukit. Konstruksi jalan menggunakan Perkerasan lentur (Flexibel Pavement) dimana lebar jalan sekitar 15-20 meter, dan terdapat saluran-saluran baik yang berupa saluran PDAM, maupun kabel serat optik.


2.2 Siklus Hidrologi
Pada hakikatnya Surface flow terjadi sebagai dampak dari semakin tidak seimbangnya siklus hidrologi, secara umum siklus hidrologi terjadi seperti pada gambar di bawah ini

Gambar 2.2 Siklus Hidrologi
Dalam siklus hidrologi terdapat beberapa tahapan antara lain adalah Evaporasi, Precipitation, infiltration, dll. Siklus hidrologi tersebut terjadi selama berjuta-juta tahun, namun dewasa ini siklus hidrologi yang terjadi di kota bandung mengalami beberapa permasalahan, salah satu hal yang terjadi adalah perubahan and use, yang berdapak pada saat terjadi precipition air bergerak terlalu cepat pada saluran drainase hingga mengeakibatkan terjadinya limpasan pada permukaan baik akibat daya layanan penampang maupun akibat air yang turun pada permukaan jalan, selain itu perubahan iklim pun berdampak pada perubahan waktu hujan, dinama tidak hanya waktu penghujan di kota bandung, jika dulu hujan terjadi seriap bulan september hingga desember sekarang turun tidak menentu,tentu saja hal ini berdampak pada pola perbaikan sarana infrasuktur.




Gambar 2.3 Peta Kota Bandung
2.3 Definisi Banjir
Secara umum banjir mepupakan limpasan air yang terjadi dari suatu penampang saluran drainase baik barupa drinase alami, maupun buatan, ke daerah sekitarnya yang diakibatkan ketidak mampuan saluran darainase dalam melaksanakan daya layanannya.
Berbicara tentang banjir maka kita akan teringat tentang luapan anir sungai yang terjadi ketika terjadi hujan, namun tidak hanya pada aspek itu saja bencana banjir dapat terjadi pada daerah yang jauh dari sungai, seperti di sepanjang saluran drinase jalan, hal ini terjadi sebagai akibat dari tidak berjalanya penyaluran aliran air sungai yang diakibatkan oleh bertumpuknya material dalam saluran yang pada akhirnya mampu menahan aliran air sehingga air menjadi meluber kedaerah disamping permukaan jalan dan pada titik tertentu menggenangi jalan yang berada di sekitarnya.

2.4 Faktor-Faktor Penyebab Banjir
a. Proses Erosi
Proses erosi dapat dijadikan sebagai akar masalah terjadinya banjir pada surface road, hal ini terjadi sebagai akibat dari gesekan yang terjadi secara terus menerus antara aliran air dengan kecepatan tinggi dengan permukaan saluran yang lambat laun mampu mengikis mantel dari saluran tersebut, pengikisan yang terjadi secara terus menerus beakibat pada kemahnya stabilitas penampang, penampang yang telah tererosi lambat laun akan membuat dinding saluran menjadi lemah dan pada beberapa titik diketahui sudah ambrol, dampak yang terjadi tidak hanya pada konstruksi saluran saja, akan tetapi berdampak pada aliran air yang melewati daerah tersebut, air yang berada pada daerah tersebut akan tertahan dan akan mengakibatkan air akan berbelok, peningkatan elevasi permukaan, sehingga air akan meluber ke dalam surface road.

b. Proses Sedimentasi
Erosi tanah yang terjadi pada daerah aliran saluran akan menyebabkan bergeserya partikel tanah pada daerah yang kurang terlindungi, hal ini menyebakan air yang melewati tanah tersebut akan memindahkan partikel tanah tersebut, partikel-partikel tesebut, bergerak sesuai dengan arah kemana air itu bergerak, pada saluran yang berkelok ataupun pada pertemuan saluran air yang mengadung partikel akan bertubrukan sehingga mengakibatkan partikel akan kehilangan energinya, sehingga partikel akan turun ke bawah dan menciptakan terjadinya delta-delta pada sepanjang saluran,
Delta-delta yang bertebaran pada sepanjang penampang saluran drainase lambat laun semakin bertambah, sehingga berakibat permukaan muka air banjir menjadi naik dan pada saat terjadi hujan dengan debit yang tinggi air akan keluar dari penampang, dan berdampak pada semakin cepatnya terjadi surface road .

c. Material Dalam Penampang Saluran
Saluran drainase buatan pada hakikatnya dibangun guna mengeringkan permukaan badan jalan dari genangan air saat terjadi hujan, secara umum pada saluran drainase di sepanjang ruas jalan Dr. Setiabudhi Bandung, mengalami kelebihan muatan, sehingga daya layanan saluran menjadi berkurang, hal ini dikarenakan banyaknya material yang berada di dalam saluran drainase, salah satunya adalah sampah plastik, Kabel Telekomunikaai, ranting-ranting kayu, gabus, kotoran manusia, kayu, dan sisa-sisa alat produksi manusia mengurangi luas penampang basah dari saluran. Hal ini terjadi dikarenakkan masih melekatnya budaya membuang sampah sembarangan baik yang dilakukan pada saat terjadi hujan maupun yang terjadi di saat kemarau, yang terjadi pada masyarakat
Implikasi yang terjadi pada saluran tersebut adalah terhambatnya aliran air, yang diakibatkan oleh tersumbatnya saluran sehingga mengakibatkan terjadinya arus balik yang mengakibatkan terjadinya guling pada manhole, dan banjir pada permukaan jalan, hal ini dapat kita lihat dari gambar di bawah ini.

Gambar 2.4 Material Dalam Saluran Drainase pada Ruad Jalan Setiabudhi

2.5 Dampak Terjadinya Banjir
a. Macet
Pada saat saluran drainase mulai kehilangan daya layanan terhadap material yang ada dalam penampang, maka air yang ada dalam penampang akan meluber ke daearah di sekitar saluran, salah satu yang sering terjadi adalah pada permukaan jalan, ketika air masuk ke dalam permukaan jalan dengan debit dan elevasi yang tinggi maka sesuai dengan topografi yang khas dari ruas jalan setiabudhi, air akan mengalir dengan cepat ke jalan setiabudhi bawah, hal ini dikarenakan pengaruh dari sistem gravitasi.
Kondisi Seperti ini mengakibatkan terjadinya tumbukan antara ai yang datang dari atas dengan kendaraaan yang meluncur dari setiabudhi bawah, akibatnya adalah mesin baik pada karburator maupun busi, yang berada di bawah akan terkena air, sehingga mengakibatkan mobil maupun motor akan mengalami mogok.
Terhentinya kendaraan di lajur jalan mengakibatkan arus lalu lintas menjadi terhambat, akibatnya terjadi antrian kendaran dengan waktu yang sangat lama., kondisi ini dapat menjadi different effect sebab selain penumpukan kendaraan di lajur jalan, penambahan waktui tempuh pun ikut terjadi,dan yang paling fatal adalah bertambahya kebutuhan Bahan bakar minyak.

Gambar 2.5 Genangan air di permukaan jalan

b. Kerusakan Surface Road
Kerusakan yang terjadi akibat adanya limpasan permukaan pada permukaan jalan yang paling sering terjadi adalah kerusakan pada permukaan jalan yang pada akhirnya berdampak rusaknya badan jalan, Ayi Vivananda mengatakan bahwa perbaikan jalan yang terjadi di kota Bandung setiap tahunnya menyerap dana sekitar 12 miliar pertahun

Gambar 2.5 Kerusakan pada Permukaan Jalan Setiabudhi
Kerusakan yang terjadi pada permukaan jalan diakibatkan oleh surface road yang berbahan aspal, seperti telah diketahui bersama bahwa aspal mengalami pemanasan di siang hari dan pendinginan di malam hari, kondisi ini mengakibatkan aspal menjadi mengembang dan mengempis.
Seperti telah kita ketahui bersama aspal sangat anti terhadap air, sehingga ketika air mengenang dan mengalir di permukaan jalan maka permukaan jalan akan tergersus dengan air, sehingga sedikit-demi sedikit air penampang mulai rusak dan dengan bantuan dari beban kendaraan yang berada diatasnya maka permukaan jalan yang telah rusak akan semakin parah.

c. Kerusakan Sistem Drainase
Pada saat terjadi hujan saluran drainase akan semakin besar membawa material dalam saluranya, baik yang berupa sedimen, sampak, kayu, maupun hasil dari konsumsi rumah tangga, dengan debit yang besar maka air akan menghantam benda pa saja yang ada di sekitarnya, tidak terkecuali dengan manhole ataupun penutup dari penampa drainase, kerusakan yang terjadi pada manhole terjadi seperti pada gambar di bawah ini

Gambar 2.5 Kerusakan pada Sistem drainase
Keruasakan yang terjadi pada bagian ini jika potongan manhole masuk ke dalam saluran maka akan menyumbat air dan mengakibatkan air akan meluber ke daerah di samping drainase

2.6 Alternatif Solusi Pemecahan
a. Regulasi Peraturan Pemerintah Tentang Pengendalian Banjir
Pemerintah daerah merupakan otoritas yang paling berkuasa dalam pengelolaan Saluran drainase yang ada di kota /kabupaten dalan hal ini Pemerintah daerah memikiki peranan yang sangat penting dalam mengimplementasikan peraturan-peraturan pemerintah yang telah di sah kan, oleh karena daerah khususnya kota Bandung perlu untuk mengoptimalkan regulasi peraturan pemerintah yang telah ada salah satunya adalah tentang K3, maupun tentang pengelolaan infrastruktur, serta pembuatan regulasi baru tentang tindakan pencegahan banjir secara khusus

b. Penggunaan Jaring Baja dan Kolam Endapan
Selain mengoptimalkan Peraturan daerah tentang K3 , solusi untuk mengeleminir terjadinya banjir pada permukaan jalan adalah dengan meakukan rekayasa enginering, perekayasaan pada saluran drainase dapat dilakukan dengan menggunakan jaring baja dan kolam endapan pada penampang melintang saluran, hal ini dilakukan untuk menghindari saluran dari material-material yang terdapat dalam penampang saluran serta sedimentasi-sedimentasi yang terdapat dalam arus , penggunaan jaring baja dapat dilakukan setiap jarak 500m, sesuai dengan gambar di bawah ini


Gambar 2.6 Penampang Melintang Saluran

Dengan adanya jaring baja maka material-material yang terdapat dalam saluran akan tertahan, sehingga arus air akan bergerak dengan lancar tanpa ada hambatan,dan material akan mudah untuk di normalisasi serta air akan menjadi lebih jernih.

Dari tampak Potongan B-B dalat dengan jelas kita lihat bahwa sampah-sampah yang masuk ke dalam saluran langsung tertahan oleh jaring baja, kemudian dengan membuka manhole, sampah kemudian di angkat hingga selesai setiap 1 minggu sekali di musim kemarau dan 3 hari sekali di musim penghujan, serta pengangkatan secara insidental setiap hujan datang.
Kolam endapan berfungsi secara ganda yaitu sebagai terjunan-ternujan yang berguna untuk mengurangi kecepatan air di saluran serta untuk mengendapkan sedimentasi yang terbawa oleh air, dengan adanya kolam endapan maka air yang telah melewati kolam endapan hanya akan membawa sedimen dengan jumlah yang sangat sedikit, sehingga berdampak air menjadi semakin jernih, dan delta-delta di sepanjang saluran menjadi berkurang. Dalam prakteknya sedimen-sedimen yang berada di dasar kolam olakan di angkat dengan cara membuka manhole, baik dengan cara manual maupun dengan menggunakan bantuan alat masinal, pengangatan sedimen secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan ember, maupun bekas ”Boboko” yang tidak digunakan. Pengangkatan atau normalisasi dilakukan setiap 1 minggu sekali di musim penghujan dan 2 minggu sekali di musim kemarau.

Gambar 2.7 Penampang Memanjang Saluran


c. Pembersihan Celah-Celah Kerb.
Seperti kita ketahui bersama pada saat hujan air hujan akan turun di permukaan jalan, sehingga seperti sifat air maka air akan mengalir dari potensial tinggi ke potensial rendah oleh karena itu dengan pada bagian kerb yang telah di lubangi perlu untuk di di bersihkan setiap saat, dalam hal ini pembersihan dilakukan setiap 1 minggu sekali baik di musim kemarau maupun di musim penghujan, sehingga ketika hujan datang maka air akan langsung masuk ke lobang kerb dan langsung masuk ke saluran sehingga permukaan jalan akan semakin cepat kering.

d. Pendayagunaan Surveyor Drainage
Secanggih apapun infrastruktur bila tidak di kelola bengan baik dan dioperasikan dengan baik , maka infrastruktur tersebut tidak akan berjalan dengan optimal, oleh karena itu tentu saja diperlukan tenaga kerja manusia yang khusus untuk menangani perawatan dan pengoperasian saluran drainase, untuk itu diperlukan sekurang-kurangnya 2 orang petugas surveyor drainage untuk mengelola, menjaga saluran drainase di sepanjang ruas jalan setiabudhi Bandung agar sistem yang telah dibangun terap bekerja secara optimal, dalam hal ini ruang lingkup pekerjaan surveyor drainase adalah pada asepek pengecekan penutup saluran, pengecekan dan pengangkatan material, serrta pengurasan kolam endapan, kolam endapan di buka setiap 1 minggu sekali kemudian di angkat.


























BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya adalah :
a. Banjir yang sering terjadi di sepanjang ruas jalan setiabudhi diakibatkan oleh, erosi pada penampang saluran, sedimentasi pada dasar saluran drainase, serta terlalu banyak material yang terdapat dalam pemampang saluran
b. Banjir yang melanda ruas jalan setiabudhi bandung berdampak pada kondisi banjir yang mengakibatkan bertambahnya waktu tempuh, dan bahan bakar minyak untuk pembakaran kendaraan bermotor, rusaknya saluran drainase baik berupa penggulungan penutup drainase, maupun permukaan jalan

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk menanggulangi banjir yang terjadi pada ruas jalan setiabudhi bandung adalah sebagai berikut :
a. Mempertegas regulasi tentang Upaya pencegahan banjir, maupun K3
b. Melakukan perekayasaan Engineering dengan menggunakan net baja dan kolam endapan
c. Membersihkan kerb se sering mungkin
d. Mengangkat surveyor drainase sebanyak 2 orang setiap 2 km