BANJIR HANTU DI BALIK RINTIKAN HUJAN*
Oleh :
Deni Yudistira**
Banjir itulah suatu kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar , hampir setiap musim hujan kata bajir selalu “menghiasi” lembaran media cetak maupun media elektroinik , hampir di setiap kota dan kabupaten di Negara Kesatuan Republik Indonesia banjir selalu menampakan dirinya takala hujan mengguyur, mulai dari simeulu, Mandailing Natal, Palembang, Lampung,Baleendah, bahkan Ibu kota Jakata pun ikut terkena musibah ini.
Banjir bukanlah suatu fenomena alam yang terjadi secara alamiah, namun banjir dapat terjadi akibat dari perilaku manusia, Secara definisi banjir merupakan suatu phenomena yang terjadi dimana air meluber melewati tanggul sungai akibat sungai tidak mampu melaksanakan daya layanannya.
Khususnya di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung banjir terjadi karena tidak terwujudnya konsep “one river, one plan, and One management”, dalam si stem drainase berkelanjutan yang dikelola oleh pemerintah , baik storm water drainage, maupun sewer drainage, hal ini dapat kita amati dari ketidak siapan pemerintah dalam mengendalikan dan menanggulangi sumber daya air yang pada akhirnya berdampak pada ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir.
Sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat berharga Raja Tarumanagara membuatan Somal dan Gomati untuk memperlancar aliran sungai cisadane, dan yang terdekat pada tahun 1810 salah satu alasan pemindahan ibu Kota Kabupaten Bandung yang dulu berada di Karapyak (Dayeuh kolot) menjadi di Soreang, hal ini dilatar belakangi oleh seringgnya terjadi luapan air di sepanjang daerah aliran sungai Citarum. Namun kita seakan lupa dan tidak belajar dari pendahulu kita, 200 tahun telah berlalu namun banjir tetap ada walaupun daerah genangan luapan sungai citarum mulai berkurang dari 13.000 ha tahun 1983, 7.500 ha tahun 1986, dan 542 ha setelah terjadi normalisasi sungai tahap stiu dan dua yang dilakukan tahun 1994-2002.
Kita dapat melihat amukan air sungai Citarum yang meluber di Kecamatan Beleendah merendam 1- 3 meter dan bahkan di kampu ng Cieunteung air menggenang hingga atap rumah, dan tidak hanya itu lebih dari 2 bulan air genangan tidak kunjung surut, dan tentu saja mengakibatkan diffent effect, dimana masyarakat tidak dapat menjalankan aktifitas perekonomia,social dan uyang plaing parah adalah jatuhnya kerugian berupa material mapun nyawa.
Upaya pemerintah berupa normalisasi DAS Citarum tahap satu dan dua yang berlangsung 1994-2002 belum menjadi solusi akhir, dan peningkatan infrasuktur berupa bendungan-bendungan yang direncanakan dapat menelan 100 milyar yang berasal dari APBNP hasil pinjaman dari Asian Development Bank pun tidak akan secara instan menghilangkan bencana ini s ebab akar masalahnya bukan hanya pendekatan struktur saja yang bernuansa proyek, namun kalau kita runut samapai ke akar ternyata akar masalahnya factor manusia dan juga infrastrur
Kondisi SubDAS di Citarum hulu mengalami perubahan yang sangat cepat alih fungsi lahan yang marak baik untuk permukiman maupun pertanian rakyat berimplikasi air akan semakin cepat masuk ke sungai dan tidak hanya itu air yang meluncur akan mengikis tahan dan membawanya kesungai, sampai saat ini paling sedikit dari 771.001 ton/th sedimentasi terjadi
Ditambah lagi ditengah dengan muatan sungai berupa libah rumah tangga baik yang berupa zat cair maupun Benda padat seperti kasur, kursi, sampah masuk kedalam sungai dan di hilir banyaknya bangunan-bangunan yang berada di bantaran sungai yang pada akhirnya mengakibatkan penampang sungai menjadi mengecil.
Oleh karena itu diperlukan suatu upaya yang massif, dan sistematis untuk mengembangkan system drainase yang berkelanjutan yang “terangkai” secara komprehensip antara infrastruktur dan manusia sebagai subjek sekaligus objek dalam managemen pengelolaan sumber daya air, yang diikat oleh Peraturan pemerintah yang dilaksanakan secara real, proporsional, dan bertanggung jawab sehingga banji hantu dibalik rintikan hujan tidak akan terlihat lagi.
*Disajiakan dalam Diskusi Forum Studi Mahasiswa FPTK
** Deni Yudistira DPM HMS FPTK UPI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar