Kamis, 15 Desember 2011
Kamis, 08 Desember 2011
Rabu, 07 Desember 2011
BANJIR JAKARTA BENCANA DALAM KE TIDAK PEDULIAN DAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT
Oleh :
Deni Yudistira
Oleh :
Deni Yudistira
Banjir merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita hampir setiap terjadi hujan media massa ramai-ramai menyuarakan tentang banjir terjadi bi beberapa tempat di Ibukota। Secara umum banjir dapat diartikan sebagai peristiwa disaat melubernya air dalam saluran drainase baik itu drainase alami maupun buatan ke daerah sekitar yang diakibatkan oleh berkurangnya daya layanan drainse dalam mengalirkan muatannya।
Jakarta sebagai ibu kota senantiasa di hiasi oleh banjir baik yang berupa flood way maupun banjir kiriman , lokasi geografis yang dilalui oles sungai-sungai besar dari kota-kota satelit turut serta mengakibatkan banjir seperti yang terjadi pada 1 Februari 2008, banjir yang terjadi bahkan ikut menggenangi kawasan di sekitar istana Negara, selain itu kondisi topografi yang cenderung datar mengakibatkan air hanya bergerak sangat lambat। Proses terjadinya banjir merupakan proses dimana terjadinya kegagalan siklus hidrologi dimana surface flow tidak bisa secepatnya mengirimkan air dengan lancer ke lokasi-lokasi penampungan air seperti waduk, embung dan laut।
Khusus untuk di kota Jakarta banjir terjadi sebagai akibat dari berkurangnya daerah tangkapan air sehingga mengakibatkan coefisien runoff semakin tinggi hal ini disebabkan oleh alih fungsi lahan, dari lahan perkebunan,empang menjadi kompleks perumahan, hal ini berdampak pada siklus hidrologi yang terjadi semakin cepat dimana air yang turun “dipaksa” untuk secepatnya memasuki saluran-saluran drainase. Akibatnya adalah ketika muatan berlebih daya layanan drainase semakin berkurang dan berdampak air meluber ke luar saluran.
Selain itu kondisi penampang saluran yang semakin dangkal yang diakibatkan oleh banyaknya muatan dalam saluran seperti sedimentasi dan sampah turut mempercepat terjadinya banjir sebab ketika arus air akan tertahan oleh sumbatan(sampah) yang mengakibatkan air semakin cepat naik, seperti yang terjadi di salah satu kawasan perkampungan di kelapa Gading Jakarta utara elevasi air dari dasar sungai ke top sungai hanya sekitar 30-40 cm yang diakibatkan oleh sedimentasi yang sangat luar bias besarnya sehingga takala terjadi hujan air cepat naik dan meluber kedaerah di sekitarnya tidak tanggung-tanggung di beberapa bagian bantaran sungai di daerah tersebut elevasi air mencapai kedalaman 15-25 cm*. Kondisi ini selain berdampak pada moda transportasi (baik untuk pejalan kaki maupun pengguna roda dua) ,dan merugikan masyarakat baik dari bidang kesehatan maupun lingkungan.
Problematika ini sunguh sangat memilukan karena letaknya yang berada di ibukota Negara,juga telah banyak program dan dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah baik pusat maupu daerah oleh karena itu penangan banjir di Jakarta diperlukan upaya yang komprehensif dimana perlu dilakukan upaya pencegahan yang massif,sistematis dan terstruktur yang berbasis pada partisipatif masyatakat dengan pendekatan Partisipatory Action Research , sebab tidak hanya terrain yang perlu dilakukan rekayasa tetapi faktor masyarakat pun perlu di benahi karena baik secara langsung masyarakat ikut mempengaruhi sebab hampir disepanjang aliran sungai sampah (baik berupa peralatan rumah tangga, plastik, sisa banguna dll) turut mengapung dipenampang saluran, walaupun tidak akan cukup waktu 5 tahun untuk menciptakan Jakarta bebas banjir namun suatu langkah yang mantap untuk mengeleminir terjadinya banjir perlu di laksanakan secara terintegrasi dan dengan masterplane yang jelas serta adanya dukungan yang continou terhadap Civil Sosiety Organisation(CSO)yang berperan sebagai voluntary baik yang berbentuk lebaga maupun perorangan .
Langganan:
Komentar (Atom)


