Definition List

Pages

Senin, 28 Oktober 2013

SUMPAH PEMUDA KINI DAN MASA LALU Refleksi 68 TahunIndonesia Merdeka

SUMPAH PEMUDA KINI DAN MASA LALU
Refleksi 68 TahunIndonesia Merdeka
Oleh  :
Deni Yudistira*
*Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
Sudah lebih dari setengah abad yang lalu Indonesia Merdeka, lepas dari belenggu penjajahan ortodok, namun cita-cita yang diharapkan oleh para founding father ibarat jauh panggang dari api , kemiskinan masih merajalela, tingkat ekonomi masih rendah bahkan yang terjadi peningkatan perekonomian masih hanya dirasakan oleh golongan kelas atas saja yang menguasai kapita yang cukup besar, kasus-kasus kemiskinan terjadi hamper di berbagai daerah seperti kita lihat di Jakarta yang merupakan elatase Indonesia  hamper di berbagai kecamatan dan kelurahan terlihat, gizi buruk, penggangguran, bentrokan, sweeping, pembunuhan, perkosaan, senantiasa mewarnai hari-hari kita yang tampa henti menyodorkan cerita-cerita negarif baik itu melalui media massa, elektronik maupun televisi.
Cerita tentang kemerdekaan sebagai jembatan emas, dan “nyanyian-nyanyian” pembukaan teks proklamasi senantiasa berkumandang di setiap hari senin baik itu di balai kota, sekolah, maupun di tempat-tempat lain, namun di ujung timur rumah kita saudara-saudara kita telah menukar darah para leluhur mereka dengan secarik kertas dari lorosae, belum cukup itu kita menyaksikan bagaimana para petani kehilangan lahan, anak rimba yang kehilangan hutannya, serta anak-anak yang kehilangan hak-haknya untuk dicerdas kan jiwa nya untuk menjadi suatu bangsa Indonesia, muncul suatu pertanyaan apakah Indonesia itu miskin, apakah Indonesia tidak mempunyai anggaran untuk itu, apahah Tuhan tidak merakhmati bumi persada Indonesia ini?
Kawan di kedai mas basuki yang kerjanya mengayuh becak berseloroh bahwa  kita ini kaya, kita di rakhamati Tuhan tanah yang subur, sambil menyeruput secangkir teh hangat, namun ia pun bingung mengapa ia hanya bisa tidur diatas helicak itu padahal kakek dan neneknya termasuk ibunya ikut bersama pemuda berperang melawan Penjajah Belanda, bahkan sawah, kerbau dan balong pun mereka tinggalkan untuk menggangkat bamboo runcing bersama,  untuk membuat jembatan emas Indonesia merdeka, kemanakah emas di cikotok itu, kemanakah Batubara, Gas itu, dan kemanakah Pajak yang dipungut dari rakyat dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur dan kemanakah para pemuda itu sekarang?, masihkah ada Reinkarnasi sifat Tan Malaka, Hatta, Soekarno, Semaun, Agus Salim, Atau Syahrie itu????????



PEMUDA MASA LALU DAN KINI
Jauh sebelum Indonesia Merdeka  kita telah mendengar tentang kesuksesan dan kegagahan para pemuda dalam mempertahankan kedaulatan “lemah cai”nya, dari kaum kolonialisme yang mulai bercokol di Nusantara, mulai dari Adi Pati Unus, Sultan Iskandar Muda, Sultan Hassanuddin, Diponegoro, dengan sekuat tenaga mempertahankan sejengkal demi sejengkal kedaulatan yang dimiliki meskipun masih bersifat kedaerahan, bahkan tidak tertinggal juga para ibu-ibu sakti”seperti Tjut Nyak Dien, Tjut Meutia, Kristina Marthatiahalu,hingga R.A Kartini ikut berjuang untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, meskipun sampai akhir hanyatnya tidak merasakan suasana dari kemerdekaan itu, mungkin di alam sana mereka bersyukur dan bergembira bahwa mereka telah mampu melahirkan cucu-cucu anak ibu pertiwi yang mampu untuk menuntaskan cita-cita yang telah lama hilang itu.
Politik etis itulah suatu konsep yang mungkin sangat benci oleh penjajah belanda, dan mungkin juga J.P Quen sangat jengkel dengan konsep ini sebab semenjak konsep ini berlaku maka mulailah banyak pada pemuda kaum boemipoetra mulai mengalami aufklarung, sehingga membuat mereka kaum imperialis harus mencari celah bagaimana cara untuk mempertahankan dominasi dari merebaknya kaum intelektual muda, baik dari lembaga pendidikan formal bentukan maupun lembaga pendidikan non formal di pesantren, hingga lahirlah para pemuda cerdik pandai seperti H.Agus Salim, Tan Malaka, Soekarno,Hatta, Sjahrier, Natsier, Semun, Suwiryo,Ahmad Dahlan, Tjokroaminoto, yang memiliki konsepsi-konsepsi untuk menyelamat Ummah dari Penindasan, sebagaimana Tjokroaminoto nyatakan dalam Islam dan Sosialisme bahwa “Tidaklah Wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makan hanya disebaban oleh susunya, tidaklah pada tempatnya untuk mengganggap negeri ini sebagai suatu tempat dimana orang-orang dating dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi”, bahkan Hatta telah berjanji dan menepati janjinya untuk tidak akan pernah menikah sebelum Indonesia merdeka, pun sama dengan para pemuda-pemuda yang lain yang menjual kenikmatan-dan kemewahan utuk Indonesia merdeka.
Lain lading lain belalang lain lubuk lain pula ikannya, lain dulu lain sekarang dulu pemuda berjuang untuk bangsanya kini tak sedikityang “menghancurkan bangsanya,”. Penjajahan pada hakikatnya adalah upaya untuk meningkatkan ekonomi dengan jalan merebut, mencengkram suatu wilayah untuk mendapatkan surplus value, sehingga untuk melanggengkan penjajahan itu maka diperan para agen untuk memperbodoh masyarakat, seperti dikatakan oleh penyair* bahwa cara menghancurkan musuh yang paling efektif adalah dengan menghancurkan dari dalam diri musuh itu sendiri, seperti yang dilakukan saat ini tidak sedikit  para pemuda yang bekerja untuk kepentingan orang lain dengan menghancurkan kehidupan dan masa depan bangsanya, seperti yang sering kita lihat sudut-sudut warung kopi banyak terdapat para pemuda yang masuk bui, mengutik Undang-undang bahwa pemuda adalah suatu individu yang masih produktif dan mampu menghasilkan sesuatu, hal ini dapat kita pahami bahwa yang dimaksud pemuda tidak terbatas oleh umur.
Ditahun ini dita disajikan oleh rentetan para cerdik pandai yang dipaksa ngekost di hotel prodeo, mulai dari Nazarudin, Angelina, Gayus,dll, yang notabene mereka termasuk kedalam golongan pemuda harapan bangsa, seperti yang kita lihat di TV ternyata kebanyakan adalah pelaku kasus korupsi, bahkan di era modern ini ada juga Mahaguru di bidang pendidikan yang telah dirasuki oleh penyakit KKN ini dan yang mengherankan di departemen tempat para cerdik pandai di bidang agama terjadi kasus serupa, Naudzubillahimindzalik, kita dapat melihat bagaimana kontrasnya sikap mereka dengan apa yang dilakukan oleh Sjafrudin Prawiranegara yang tidak mampu membeli sehelai kain untuk persalinan walaupun berposisi sebagai mentri keuangan, dan Hatta yang sampai akhir hayatnya tidak kesampaian membeli sepatu bally walaupun bertahun-tahun menjadi wapres, padahal kini kita dapat melihat baru kemarin sore menjadi pejabat public singlet yang dipake pun sudah ganti asalnya dari tanah abang menjadi tanah  abang sam.
Api revolusi itu seakan-akan kian padam bahkan untuk sekedar memiliki jiwa Indonesiapun mungkin telah padam, kita dapat melihat bagaimana Nasionalisme kita telah dihancurkan oleh yang namanya K-Pop dimana saat Ustadz yang menganjurkan kita untuk bersyukur atas kemenangan TIMNAS-U19 malah di bully oleh para alayer yang bahkan seakan-akan tidak rela Indonesia sebagai bangsanya mengalahkan fans favoritnya, saya seperti tak habis piker melihat phenomena ini apakah building character sebagaimana yang digembor-gemborkan itu telah luluh lantak oleh Gangnam Style.

SUMPAH PEMUDA PERAYAAN DAN PENOLAKAN
Sumpah pemuda merupakan muara dari keinginan para pemuda untuk menentukan nasib bangsanya sendiri baik yang telah lama di kandung oleh para pendahulu baik melalui Serekat Islam, Boedi Oetomo, Ormas-ormas, sehingga menginspirasi pembentukan persatuan-persatuan daerah seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Batak, Ambon, Celebes Dll untuk mengikrarkan diri bersat padu bertekad bersama untuk mendahulukan kepentingan bersama, masyarakat, bangsa, dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan(samen bundeling van alle krachen van de natie) sehingga terbentulah sumpah pemuda yang berbunyi:
”Kami Putra dan Putri  Indonesia Mengaku Bertumpah Darah yang satu, Tanah Indonesia
”Kami Putra dan Putri  Indonesia Mengaku Berbangsa yang satu, Bangsa  Indonesia
”Kami Putra dan Putri  Indonesia Menjungjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia
Inilah tonggak sejarah awal pergerakan kemerdekaan Indonesia secara Nasional melepaskan diri dari golongan, suku, budaya menjadi suatu kekuatan besar yang pada akhirnya mampu untuk melepaskan diri dari penjajahan sehingga menjadi bangsa Indonesia yang merdeka Bersatu, namun perjuangan yang dilakukan dengan pedoman sebagaimana yang dinyatakan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Alloh SWT*)dalam surat Ar-Ra’du ayat 11 :”ALLAH S.W.T Tidak akan mengubah nasib suatu kaum  sebelum kaum itu sendiri merubahnya” sehingga meskipun harus berkorban nyawa akhirnya Bung Karno-Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia.
Kemerdekaan sebagai jembatan emas digunakan oleh para pemuda untuk menata kehidupan bangsanya sendiri sehingga menuju bangsa yang merdeka adil dan makmur, dengan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan mampu mempertahankan dari Agresi militer Belanda 1 dan 2 hingga akhirnya diakui sebagai bangsa yang merdeka secara De Jure dan De Facto, Peran Pemuda dalam masyarakat dalam mengisi kemerdekanan dan pembangunan senantiasa dilaksanakan secara berkala hamper di setiap angkatan baik itu angkatan 66, Malari, hingga Revolusi  Setengah tiang 1998.
Namun tanpa kita sadari ternyata terdapat berbagai para pemuda yang menjadi belanda-belanda hitam yang senantiasa bekerja demi tuannya sehingga hutan menjadi hilang, Laut habis, Emas dikirim ke New York dan yang paling parah lagi Harga CPO harus ditentukan oleh luar negeri, Gas di bumi papua terbang kenegeri panda padahal berduyun duyun orang mengantri Gas saban hari di sebagai  bersar kota-kota Di Indonesia.
Ironis memang kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata mereka tukarkan dengan kekayaan pribadi yang hanya secuil dari yang seharusnya di dapat, kita dapat melihat dari kontrak karya besar yang hanya mendapatkan kurang dari 5% dari laba bersih, padahal tanahh itu, emas itu , berlian itu ada di dalam perut ibu pertiwi, perut yang selalu ditangisi oleh jutaan kaum papa Indonesia, Konsesi minyak yang seharusnya mampu menunjang kehidupan rakyat banyak harus diserahkan kepada para kontraktor asing, padahal perusahaan negeri sendiri sudah mampu mengelolanya, kembali budaya inlander mulai hinggap ke dalam sanubari para oknum pemuda harapan bangsa itu.
Menyitir kalimat Mark Havelaar dalam peristiwa kelaparan di lebak, bahwa rakyat miskin karena senantiasa di hisap oleh saudaranya sendiri, padahal Tuhan telah mengingatkan kita bahwa “Setiap seorang muslim adalah saudara” sehingga bila ada kaum muslim yang kekurangan maka kewajiban bagi kita untuk  membantu melepaskan dari kekurangan itu.

Kemiskinan , keterbelakangan dan ketika mampuan untuk memenuhi kebutuhan telah menjadikan sebagaian rakyat Indonesia mencoba mengambil jalan pintas, orang strees karena kemiskinan, mencopet, membunuh dan melakukan perbuatan negative lainnya, namun di sisi lainya orang kaya sibuk menumpuk hartanya baik dengan cara yang benar dan tidak sedikit dengan cara negative seperti korupsi kolusi, suap, sogokan,hingga ngemplang pajak, alhasil dana yang seharusnya digunakan untuk membangun bulding character, pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kesejahterraan untuk menggapai Indonesia adil dan makmur masih ibarat jauh panggang dari api, kita melihat bergelimangan anak anak putus sekolah di jalanan, harga semakin mahal, pata petani tak kerja,ini merupakan dampak dari kolonialisme jenis baru dengan actor oknum para pemud.
Sumpah pemuda sebagai tonggak persatuan harus senantiasa dirayakan, dan diresapi sehingga muncul suatu antitesa baru dalam mencari konsepsi-konsepsi yang cespleng untuk kemajuan bangsa, sebab jika hanya dirayakan sebagai even tahunan dan seremonial maka tidak akan ada perubahan bung karno telah berpesan jangan ambil abu revolusi tapi ambilah api revolusi yang menyala-nyala yang menjadi spirit untuk Indonesia, alhasil kondisi ini maka telah bertahun-tahun sumpah pemuda hanya menjadi rutinitas tanpa menjadi aksinyata, sehingga memunculkan keraguan di sebagai para pemuda akan kesaktian dari sumpah pemuda itu , mereka bahkan menolak perayaan sumpah pemuda dan menggantikannya dengan sumpah lain yang tidak jelas apa jasanya untuk NKRI ini.
Penolakan yang terjadi bukan tanpa alasan sebab di bumi pertiwi ini kemiskinan masih mendominasi, kesengsaaraan adalah pandangan sehari hari, peningkatan perekonomian 6-8% pertahun hanya dirasakan oleh kaum kelas atas saja sementara kaum miskin hanya mendapatkan dampak negative dari pembangunan, munculnya antitesa untuk menggunakan ke Khalifahan sebagai suatu alternative baru ibarat oase di gunung bromo, yang meneduhkan sekaligus menyejukan.
Mimpi mimpi hidup sejahtera, gemah ripah loh jenawi, seperti yang terjadi di jaman Nabi Muhammad SAW, dan khulafaurrasidin semakin menyeruak bersamaan dengan merebaknya ormas HTI dan Gema Pembebasan, ide untuk mengganti Pancasila dan Indiologi (Islam) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi issue yang sangat sentral sehingga dengant terang-terangan mereka menolak sumpah pemuda mengi.

SUMPAH PEMUDA DAN RELEVANSI KE KINIAN
Sumpah pemuda sebagai tonggak awal kemajuan dan keinginan yang dilakukan oleh para pemuda hasil kristalisasi dari perjuangan pada founding father masih merupakan suatu hal yang sangat layak untuk di laksanakan sebab dalam membangun suatu baldatun toyyibun warobbun ghofur memerlukan suatu persatuan, memerlukan suatu kesinergisan sehingga tidak ada rasa paling tinggi antar sesama manusia, perjuangan untuk mencapai kemandirian bangsa memerlukan kerjasama antar berbagai pihak, sehingga sumpah pemuda tidak menjadi lambing, dan kegiatan seremonial saja, Ahmad Dahlan berkata bahwa; “tidak pelu kita mengkitung berapa banyak kita membaca surat Al-Ma’un tapi seberapa banya kita telah memberikan makan pada orang miskin”.
Sumpah Pemuda merupakan antitesa dari sampah pemuda, sampah tulang punggung bangsa yang hanya menguras harta kekayaan Negara untuk tuanya di sana, Sumpah Pemuda merupajan suatu niat, suatu cita-cita untuk melaksanakan suatu Aksi Massa, bukan merupakan Massa Aksi yang menjadi alat dari Akssi Massa namun merupakan aksi dari massa untuk menggapai kehidupan yang layak dari kebutuhan ekonomi dan politik nya (Tan Malaka)sebab  kondisi ini bukan merupakan kiamat, tetapi masih bias kita rubah, masih bias di perbaiki, sehingga masyarakat madani yang diharapakan akan terwujud.

Spirit sumpah pemuda harus kita  jadikan sebagai aksi nyata untuk mengeleminir intoleransi yang masih merongrong ibu pertiwi, rasa chauvinism, Melaksnakan dan mengembangkan Jiwa Nasionalisme sesuai dengan kemampuan yang dimiliki baik itu melalui olah raga, Budaya, dll, sehingga Indonesia akan menjadi suatu New Emerging Force yang mampu menjadi Suatu Negara yang berdaulat Adil dan Makmur serta mampu melaksnakan Ketertiban dunia dan menjadikan sebagai suatu Negara Theistik Demokrasi demokrasi yang berlandaskan pada nilai nilai agama, sebab demokrasi barat bukan merupakan akar budaya bangsa, bukan merupakan solusi bangsa Indonesia, bukan pula demokrasi ala Timur Tengah demokrasi yang tertutup oleh sekat-sekat kesukuan dan fatamorgana, oleh karena itu kita para pemuda sebagai penerus bangsa perlu untuk menggali kembali dan melaksanakan  demokrasi kita yang telah hilang, bukan demokrasi jalan tengah nya tetangga sebelah, Tetapi demokrasi kita Theistik Demokrasi yang akan menjadi Total Station untuk menuju Gemah Ripah Repeh Rapih, Gemah ripah loh Jenawi, baldatun toyyibun warobbun ghofur. Sebab keberhasilan dari usaha  kita tetap  merupakan  berkat Rakmat Tuhan Yang Maha Esa.