Definition List

Pages

Minggu, 23 Mei 2010

Biarkan dirimu berhenti sejenak

Biarkan dirimu berhenti sejenak

Biarkan dirimu berhenti sejenak untuk bernafas, menghirup oksigen bebas yang membumbung di udara pengap ini. Udara yang sangat kotor karena tercemari gas NOx dan Sox dari knalpot maupun gas buangan pabrik yang telah mencapai batas maksimum. Namun mau apa dikata, pencemaran global telah merambat ke seluruh sektor alam. Apakah kita masih bisa protes dengan ketidak seimbangan ekosistem hidup ini ? pada siapa kita mengadu? Hanya orang lemah lah yang melakukannya. Alam tidak membutuhkan jeritan dan teriakanmu, alam tidak membutuhkan banyak retorika dan teori- teori hebat yang diusung Einstein maupun mekanika kuantum. Namun alam membutuhkan kedua telapak tanganmu untuk berhenti sejenak dari aktifitasmu yang penat, yang hanya berkutat dengan waktu dan kepingan uang receh setiap detik yang berlalu. Alam merasa sedih dengan keadaanmu yang hanya menjadi mesin waktu, sekarang ini alam menginginkan dirimu untuk bercanda dan bermain dengannya, melebur dengan tanah, humus, air dan tanaman perdu yang menari nari diterpa hembus alunan angin. Ya, alam membutuhkan tenaga dan keikhlasan hatimu untuk menanam pohon-pohon kembali, untuk merawat dan memberikannya sumber gizi seperti halnya mereka yang selalu setia memberikan hasil buminya untuk mu.
Apa jadinya jika alam enggan bersahabat denganmu? Apakah kau masih bisa bertahan hidup ? Kawan, hentikanlah keegoisan dan kearogansian dirimu yang hanya mementingkan diri sendiri. Yang mencoba mengubah dunia ini menjadi budak nafsumu, hanya karena satu keegoisanmu, berjuta burung harus kehilangan rumah dan ekosistemnya punah. Hanya karena dengan satu gerakkanmu, berapa banyak ikan yang tercemari logam berat? Bagaimana jika alam tak lagi mau menyediakan oksigen untukmu bernafas? Masihkah kau akan bersikap angkuh? Mungkin kau masih bisa bernafas, namun menggunakan gas-gas hasil sintesa, yang dipasang lewat selang-selang tabung oksigen, masihkan kau akan berlagak menantang ketika tubuhmu bak mayat hidup?
Kawan, hentiknlah semua ini, aku cukup lelah melihat tingkah lakumu. kau boleh menganggapku pengecut karena takut akan angkara murka alam, tapi aku lebih takut lagi Tuhan marah padaku. Alam yang diciptakan olehNya bukan untuk kita rusak, bukan untuk kita hancurkan, namun untuk kita jaga kelestariannya dan kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kelangsungan hidup kita dan generasi kita selanjutnya. Bukankah manusia diciptakan sebagai khalifah yang agung karena dberi cipta, rasa dan karsa ? bukan sebagai perusak, pecundang dan hamba nafsu dunia, kau harus paham akan tanggung jawab dan alasan kenapa kau diciptakan kawan. Tuhan tidak ingin membuat sebuah sandiwara dan kau menjadi pemerannya, Tuhan tidak ingin membuat sebuah operet ataupun drama kolosal, namun Tuhan menciptakanmu untuk selalu beribadah kepadaNya, menjaga ciptaanNya dan hidup sesuai dengan perintahnya yang tertera dalam Al-Quran dan Al-Hadist yang diciptakan sebagai pedoman hidupmu.


Kawan, marilah kita merenung sejenak, memikirkan setiap tindakan kecil kita yang berdampak besar. Kita tidak membutuhkan perundingan-perundingan internasional mengenai alam yang selalu gagal disepakati dan dilaksanakan, hal yang harus kita lakukan detik ini adalah cobalah untuk mencintai alam, meyakini akan berharganya alam ini, dan menyadarkan diri akan apa tanggung jawab kita terhadap alam ini. Berhentilah dari pura-pura ketidak tahuan dan sikap acuhmu. Bangunlah, jangan kau selalu tidur dalam mimpi burukmu. Kawan, marilah kita bangkit bersama, bangun dunia ini melalui kedua telapak tanganmu agar kau dan alam dapat hidup selaras seimbang, mulai detik ini jaga dan cintailah alam ini jika kau masih ingin dicintai Alam dan pemilikNya.

Sebuah guratan pena sederhana untuk menjadi bahan perenungan dan harapan akan perubahan kecil namun dapat berdampak besar.
Bandung 21 januari 2010
Lestari Nadia

Dua sisi wajah yang sangat kontras

Dua sisi wajah yang sangat kontras
Hari ini cuaca kota Bandung sama seperti hari- hari sebelumnya,, namun di siang ini keadaan lalu lintas sangat padat dan kemacet terjadi di berbagai titik . Entah apa yang terjadi dengan suasana kota Bandung sekarang ini. Kota yang dulu hijau dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi, sungai-sungai bersih dan warganya yang terkenal dengan keramahannya membuat kota Bandung sebagai salah satu kota yang menarik perhatian. Sungguh indah kota ini, pagi hari kita dapat merasakan sejuknya udara yang bersih dan berolah raga di taman diiringi kicauan burung yang bermain diantara ranting dan dedaunan , siang hari merupakan waktu yang tepat untuk belanja bersama teman dan pada malam hari kota Bandung sangat indah pemandangannya, kilauan lampu malam yang sinarnya mencoba menerangi satu titik seakan menari – nari di kegelapan malam.
Selain keadaan alam yang membuat kita nyaman, kota Bandung merupakan salah satu kota sentra mode dan kota pendidikan di Indonesia. Sungguh dapat dibayangkan kesempurnaan kota ini. Siapa yang tidak akan tertarik untuk bermukim, berbisnis dan menyelami ilmu di kota ini.
Seiring waktu berjalan, kota Bandung mulai menggeliat mencoba bangun dari tidurnya. Sebagai salah satu kota yang sangat strategis dan menunjang perkembangan di berbagai sector, para warga kota bandung mulai menyadari untuk memanfaatkan peluang ini. Dari waktu ke waktu mulai terjadi perubahan disana sini. Rumah – rumah jaman kolonial belanda disulap menjadi rumah mode, lapangan tempat anak-anak bermain sepak bola diubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, jurang – jurang terjal dirombak menjadi real estate dan lahan yang sangat sempit dapat dengan mudah berubah menjadi tempat rekreasi. Tidak memerlukan waktu yang lama dalam proses pembangunan ini. Bandung dengan mudahnya di sulap menjadi kota modern yang tak kalah bagusnya dengan kota metropolitan, serta dapat mengundang rasa iri kota yang berada disekitarnya. Hal ini membuktikan kepada dunia bahwa ini merupakan keberhasilan para pemimpin kota priangan serta keahlian yang diaplikasikan oleh para penimba ilmu.
Namun sayang, kota yang modern dan mengundang iri kota yang lain ini memiliki tabir kelam tersendiri. Betapa tidak dapat dibayangkan sebelumnya, dulu kita bangun pagi karena dibangunkan oleh suara kicauan burung namun sekarang kita dipaksa bangun dari tidur yang lelap oleh deru mesin knalpot yang sangat berisik. Udara pagi yang sejuk kini berubah menjadi lautan gas karbon monoksida yang sekali kita hirup dapat merusak sistem pernafasan. Jalan raya sangat hiruk pikuk oleh kendaraan berbagai merek buatan luar yang tak henti-hentinya menggilas jalanan aspal membuat suhu disiang hari menjadi sangat tinggi bahkan mempengaruhi pada peningkatan pemanasan global. Memang benar selain ada dampak positif ada pula dampak negative dari pembangunan ini. Namun hanya segelintir saja warga Bandung yang dapat menikmati hasil dari pembangunan ini, sebagian besar hasil pembangunan ini di nikmati oleh orang - orang berdasi dan orang berkantung tebal yang kian hari terus berbondong bondong hijrah ke kota Bandung. Sedangkan warga Bandung asli yang hanya hidup seadanya seakan di usir dari tempat terindahnya menuju lorong – lorong gang sempit dan gersang yang hanya untuk bernafaspun sangat sulit.
Pembangunan ini memunculkan dua sisi wajah yang sangat kontras. Di satu tempat di bangun hotel mewah dengan fasilitas terbaik mulai dari bintang 3 hingga bintang lima, dengan gaya arsitektur Indonesia maupun gaya arsitektur asing yang sangat megah dan indah. sedangkan di tempat yang terpinggirkan dibangun bedeng bedeng gubuk yang terbuat dari kardus dan triplek seadanya, disatu titik dibangun tempat rekreasi yang menyerupai mother land namun di tempat lain anak-anak kecil bermain di pinggiran bantaran sungai yang kelam karena airnya telah tercemari oleh zat – zat buangan industry yang tidak hanya merubah warna air saja namun juga merusak ekosistem air. Hutan – hutan yang hijau tempat penyuplai oksigen dan tempat penyerapan air hujan digunduli satu persatu, bahkan dibakar dengan mudahnya tanpa memikirkan keseimbangan alam diganti menjadi tempat-tempat yang tidak jelas peruntukkannya.
Perubahan ini tidak hanya dialami oleh kota Bandung saja, namun juga dialami oleh berbagai kota di belahan dunia ini, maka tak dapat dielakkan lagi pencemaran , perusakan ekosistem darat, air , udara terjadi dimana-mana. Dari waktu ke waktu suhu dibumi mulai meningkat, pemanasan global pun mulai terjadi dan mengakibatkan lapisan ozon mulai berlubang.
Aku tidak mencoba untuk menggerutu,menjelek jelekkan kota Bandung atau mengungkit ungkit kekurangan kota ini, namun aku merasa miris dengan semua perubahan ini. Pembangunan semua ini tidak diiringi dengan penyesuaian alam. Seharusnya tidak hanya pembangunan gedung- gedung yang dilakukan, namun dilakukan pula pembangunan mental, spiritual agar intelektual yang tinggi diikuti dengan keyakinan iman yang tinggi. Jika seperti itu, maka pembangunan akan berkesinambungan. Berharap saja tidak akan membatu sedikitpun, maka dari itu kita sebagai generasi muda harus melakukan perubahan atas semua paradigma ini. Aku lahir dan besar di kota tercinta ini, kota yang dulu ku kenal riang sekarang menjadi kota berwajah dingin. Akankah ada masa dimana perubahan ini akan berbelok ke arah yang lebih baik? Kita tunggu saja, dan lakukanlah apa yang kamu bisa untuk menyelamatkan kota ini dari keterpurukan.

Jumat, 21 Mei 2010

LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMBANG*LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMENJA KOTA KEMBANG*

LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMBANG*
Siang itu berjejer mobil-mobil menunggu untuk dapat keluar dari kepungan macet, suara klakson berkicauan satu sama lain menandakan bahwa ia sangat tergesa-gesa untuk dapat dengan segera keluar dari kerumunan monbil-mobil tua, nampak di sebelah timur sekitar 10 meter dari pintu kantor yudistira jaya sesosok gadis semampai nan anggun berjalan dengan gemulai berpegangan tangan dengan sang pujaan hatinya, seakan-akan tidak peduli dengan keadaan yang terjadi di sekitarnya, ya ia Adalah akif jannah, seorang guru sekolah menengah tingkat pertama lulusan universitas terkenal di kota bandung, yang telah ku kenal selama hampir 4 tahun sewaktu aku kuliah S1 di universitas pendidikan Indonesia.
Setengah berlari ku dekati dia dan kucoba untuk memanggil-manggil namanya, namun dia hilang tah kemana tertutup oleh opelet tua yang sedang menyeberang , sejurus kemudian ku lihat ternyata dia singgah di sebuat bookstore lima langkah dari tempat ia berdiri, ku kejar lagi ke dalam dan ternyata benar dia kawan yang dulu waktu kuliah di bandung utara.
Kutanyakan perihal nomor HP nya yang sekitar 4 tahun lalu ku coba hubungi tidak aktif-aktif, padahal waktu itu ku sedang berada di dekat desanya di kabupaten noberic yang berada di sebelah utara propinsi jawa barat, rindu yang terbendam di dalam dada serta-merta ku tumpahkan saat itu juga, hingga tak terasa waktu telah menunjukan jam 6 sore, ku bergegas pamit dan tidak lupa meminta no HP nya yang baru, sebab hari itu aku harus bertemu dengan client yang berasal dari ngarames.
Ku perkenalkan diriku terlebih dahulu, aku bernama yudistira deni, lahir di garut besar di bandung dan sekarang bekerja sebagai anggota dewan perwakilan rakyat Provinsi jawa barat, dan mengajar pada dua buah institusi pendidikan tinggi di kota bandung, mengajar Dasar-dasar manajemen, dan mengajar Mejanika teknik 3 di almamaterku dulu.
Malam itu ku merenung mengingat-ngingat kejadian tempo dulu waktu aku masih kuliah, terlintas dimataku tak kala ku sering mengejeknya dengan sebutan dewi tidur sebab bila pulang dari kuliah beliau selalu langsung tidur dan bangun tak kala senja mulai datang, namun satu hal yang membuat air mataku menetes dan membasahi pipiku adalah tak kala ku mengingat beliau ingin menjadi seorang yang totalitas menghambakan dirinya tuk sang ilahi namun ku tak dapat membantunya hingga sampai lulus
Subuh yang cerah ku terbangun dan seperti biasa susu ditambah kopi selalu menemaniku tuk menghabiskan sang fajar sambil menunggu waktu pagi datang, istriku sunatun umroh juga terlihat sibuk memasukan dokumen-dokumen hasil ujian akhir semester anak kelas 2 mata kuliah kimia umum, yang telah semalaman di rekap untuk kemudian di berikan kepada siswa-sioswanya.
Pagi telah datang ku mulai mengambil berkas-berkas rancangan peraturan daerah yang telah berjejer rapi setelah di siapkan oleh istriku yang shaleh itu, kring-kring –kring nada telepon seluler ku berbunyi dengan kencang memecah kesibukan sang hamba-hamba ilahi yang sedang memungut material yang ia turunkan dari langit dengan bungkus pekerjaan, ku angkat dan ku terima ternyata kabar dari pemimpin fraksi yang menginformasikan bahwa sidang akan di lakukan sesuai dengan jadwal yaitu jam 9.00 wib, seperti biasa sebelum kami berangkat kerja seluruh anggota yang ada ku ajak untuk makan bersama tidak terkecuali mang ana sopir pribadi ku yang sudah ku anggap keluarga sendiri, jam telah berdentang menandakan jam 6 telah di lalui membuat kami menyelesaikan acara makan bersama, tak lupa ku antarkan istriku ke sekolah tempat ia mengajar, sedangkan pak ana ku arahkan ia tuk mengambil arsip yang berada di meja kerjaku di DPD,ku kecup kerning istriku tak kala beliau keluar dari mobil yang ternyata telah di tunggu oleh guru-guru yang lain.
Pagi itu cuaca cerah menemani perjalananku menuju gedung bersejarah yang di bangun pada jaman colonial belanda, siding pun berjalan dengan lancer, dan pereaturan daerah tentang migas itu di terima oleh seluruh praksi yang ada kecuali dari fraksi karya teguh yang walk out dari ruangan siding, setelah siding yang melelahkan itu selesai ku terkejut dengan informasi yang di berikan oleh asisten pribadiku ternyata kawn ku dulu arif hidayat akan menikah jam 1 di sukabumi.
Dengan sangat menyesal ku tarik hp dari kantong selana ku dan pijit nomor mas arif itu , ku kabarkan bahawa hari ini aku tidak bisa datang sebab ada tugas dinas yang harus ku kerjakan di luar kota, setelah sekian lama berbicara akhirnya kawanku yang telah menjadi PNS ini dapat mengerti juga dengan ke adaanku dan ternyata si bungsu adikku lestari nadia juga telah hadir disana dengan orang tua ku.
Siang itu ku bergegas ke sekolah tempat istriku bekerja tuk pamit , sebab ku kan tugas ke luar kota dengan durasi 2 hari di wilayah kabupaten indramayu, dan istriku yang salaeh itu mendoakan ku semoga ku dapat selamat di perjalanan dan pulang ke rumah dengan kehormatan yang tinggi.
Udara panas menyengat kulitku tak kala mobil mulai merangkak setapak-demi setapak di bumi wiralodra ini, namun tak di sangka sesosok perempuan berlari dan menanbarakan badanya ke bagian depan mobil ku, tampa pikir panjang dengan tergesa-gesa ku keluar dari mobil dan ternyata dia adalah akif jannah perempuan yang ku temui beberapa hari yang lalu di kota kembang, sejurus kemudian ku angkat dia dan dengan bantuan dari warga ku bawa ke rumah sakit cahya kawaluyaan, tang tidak jauh berada dari tempat kejadian itu.
Satu jam berselang sang dokter keluar menanyakan keluarga dari korban tersebut guna memenuhi persyaratan administrasi, bingung bercampur sedih ku mulai menawarakan diri dan mengclaim bahwa aku adalah keluarganya, sore itu kami dapat masuk ke dalam ruangan dan dengan hari—hari ku tanyakan perihal kejadian yang terjadi kepada akif yang mulai sadarkan diri, seliau mengatakan bahwa ia telah mengalami kejadian penjamretan yang dilakukan oleh begal kapak merah yang biasa beroperasi di kawasan pantura.
Malu bercampur segan dengan suara terbata-bata ku tanyakan temntang orang yang memegang tangannya beberapa hari yang lalu, dengan lirih beliaun menjelaskan dia adalah suaminya yang telah sekitar 3,5 tahun lalu menikahinya dan pagi tadi rtelah berangkat ke Jakarta untuk keperluan pekerjaan.
Ingin ku hubungi suaminya namun beliau menolaknuya dengan halus, akhirnya cu coba baranikan diri tuk mengantarnya ke rumah orang tuanya yang ternyata tidak jauh hanya 2 jam untuk menuju ke kabupaten noberic, di perjalanan tak terasa pipiku sudah basah melihat adik ku yang tengah terbujur kaku menahan rasa sakit di pinggangnya, dan mungkin ia bingung apa yang harus dikatakan kepada suaminya tentang uang yang tadinya akan di berikan ke pondok pesantren dikala suaminya telah pulang ke rumah.
Senja ituakhirnya ku dapat menamnatkan mobil di depan pintu rumah orang tuanya yang ternyata merupajkan suksesor aku saat hendah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD jawa barat bebetapa waktu yang lalu, ku papah beliau dengan hari-hati dan ku jelaskan kejadian yang menimpanya hingga seisi rumah menumpahkan air matanya.
Dengan sopan ku tanyakan no suami dari adik ku yang malang ini, dan alhamdullilah dari hp ayah nya akhirnya ku dapat menghubungi suaminya yang ternyata telah sampai di ibu kota, untung tak di dapat sial tak dapat di tolah maksud hati ingin menyampaikan kejadian yang terjadi malah perang mulut yang menggema, ku mulai tersadar mungkin revolusi diri yang ku tanamkan kepada akif 4 tahun yang lalu masih belum dapat di terima oleh beliau hingga dengan nada sinis beliau mengatakan bahwa ia akan mempertahankan nya sampai mati, sengan sedikit kesal dan sehih seakan-akan kiamat sudah di depan mata ku coba memberiakn telepon seluler kepada ayahnya, namun itu pun sia-isa entah apa yang sedang merasukinya sehingga semua keluarganya mendapat makian dan cacian.
Dua jam telah berlalu ku mulai sadar bahwa sebenarnya 4 tahun yang lalu sebelum revolusi yang radikal itu sebenarnya apa yang ku lakukan mungkin hanya sekitar 80 % saja sebab soba ku berempati terhadap posisi beliau semkin sakit hati terasa namun, di sisi laim adik ku ini tak mau mengulas kearah sana, nasi tlah menjadi bubur dan tahun silih berganti talh datang akhirnya tampa intervensi pun adikku telah dapat menggapai kesempurnaan iman sebagaimana apa yang beliau cita-citakan.
Pagi yang hangat di teras yang membentang ke depan sawah yang terbentang nan elok seraya menabur pesona melambai-lambaikan tanganya tuk menggoda diriku supaya turun ke sawah nelangkah setapak-demi setapak, melihat kerasnya kehidupan kaum buruh tani yang darahnya semakin kering di hisap oleh lintah darat yang setelah sekian lama menjamur di bumi sunan gunung jati ini.
Di balik kamar yang berukuran kurang lebih 4 x 5 itu muncul sesosok wajah nan ayu mulai mendekati kami yang sedang mengobrol tentang garis poitik ,adik ku akif jannah telah sehat dan sembuh, luka lebam di kaki telah hilang, namun dari raut wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang terpendam yang ingin di katakana, kun mulai menerka-nerka apa yang terjadi apakah yang ada di pikiran belia, senangkah, sedihkah, takut kah atau apapun itu, namun coba ku tanyakan perihal keadaannya sekarang, dengan lirih ia berkata, alhamdullilah baikan a, mau kemana hingga ada di bumi wiralodra itu, dan sekarang kerja dimana?, dengan ringan ku jawab bahwa kedatanganku ke pantura ini untuk menjalankan tugas Negara melacak perjalanan pupuk yang di subsidi oleh pemerintah
Jam berdentang dengan lantang menujukan pukul 8 tlah berlalu, di samping jalan berderet guru-guru yang ltlah siap tuk mengungkapkan rasa bela sungkawa atas kejadian yang telah menimpa adik ku ini.
Siang yang terik membuatku tak kerasan tuk tetap berada di sana, hingga terpaksa ku pamit pulang sebab di bandung istriku sudah menunggu, dan di kampus aku harus menggelar seminar bagi anak-anak angkatan 2015 yang akan lulus, adik ku yang telah sembuh mengantar ku ke depan gerbang pintu keluar rumahnya, dan ia berbisik bahwa ia akan ke bandung lagi tuk melanjutkan s2 di upi, dan tak ragu ku tawarkan untuk tinggal di salah satu rumah ku yang terletak di dekat ledeng untuk di tinggalinya dank u sampaikan bahwa bulan depan akan berkunjung kembali dengan istriku sebab di bulan itu sekolah telah libur.S, aminya yang sedari malam telah datang menyusul ikut mengantarku hingga mobil yang ku kendarai tidak terlihat lagi.
Tiga bulan kemudian coba ku hubungi akif jannah yang, ternyata sedang berada di luar kota, ku jelaskan perihal rencana kedatangan keluargaku ke noberic akhir pecan ini, istriku yang sudah lama mengenal akif tentusaja sangat senang dan jkegirangan sekali sebab dia akan bertemu dengan kawan lama yang telah sekian tahun tidak bertemu.
Akhir pekan yang dinanti akhirnya datang juga,

LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMBANG*LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMENJA KOTA KEMBANG*

LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMBANG*
Siang itu berjejer mobil-mobil menunggu untuk dapat keluar dari kepungan macet, suara klakson berkicauan satu sama lain menandakan bahwa ia sangat tergesa-gesa untuk dapat dengan segera keluar dari kerumunan monbil-mobil tua, nampak di sebelah timur sekitar 10 meter dari pintu kantor yudistira jaya sesosok gadis semampai nan anggun berjalan dengan gemulai berpegangan tangan dengan sang pujaan hatinya, seakan-akan tidak peduli dengan keadaan yang terjadi di sekitarnya, ya ia Adalah akif jannah, seorang guru sekolah menengah tingkat pertama lulusan universitas terkenal di kota bandung, yang telah ku kenal selama hampir 4 tahun sewaktu aku kuliah S1 di universitas pendidikan Indonesia.
Setengah berlari ku dekati dia dan kucoba untuk memanggil-manggil namanya, namun dia hilang tah kemana tertutup oleh opelet tua yang sedang menyeberang , sejurus kemudian ku lihat ternyata dia singgah di sebuat bookstore lima langkah dari tempat ia berdiri, ku kejar lagi ke dalam dan ternyata benar dia kawan yang dulu waktu kuliah di bandung utara.
Kutanyakan perihal nomor HP nya yang sekitar 4 tahun lalu ku coba hubungi tidak aktif-aktif, padahal waktu itu ku sedang berada di dekat desanya di kabupaten noberic yang berada di sebelah utara propinsi jawa barat, rindu yang terbendam di dalam dada serta-merta ku tumpahkan saat itu juga, hingga tak terasa waktu telah menunjukan jam 6 sore, ku bergegas pamit dan tidak lupa meminta no HP nya yang baru, sebab hari itu aku harus bertemu dengan client yang berasal dari ngarames.
Ku perkenalkan diriku terlebih dahulu, aku bernama yudistira deni, lahir di garut besar di bandung dan sekarang bekerja sebagai anggota dewan perwakilan rakyat Provinsi jawa barat, dan mengajar pada dua buah institusi pendidikan tinggi di kota bandung, mengajar Dasar-dasar manajemen, dan mengajar Mejanika teknik 3 di almamaterku dulu.
Malam itu ku merenung mengingat-ngingat kejadian tempo dulu waktu aku masih kuliah, terlintas dimataku tak kala ku sering mengejeknya dengan sebutan dewi tidur sebab bila pulang dari kuliah beliau selalu langsung tidur dan bangun tak kala senja mulai datang, namun satu hal yang membuat air mataku menetes dan membasahi pipiku adalah tak kala ku mengingat beliau ingin menjadi seorang yang totalitas menghambakan dirinya tuk sang ilahi namun ku tak dapat membantunya hingga sampai lulus
Subuh yang cerah ku terbangun dan seperti biasa susu ditambah kopi selalu menemaniku tuk menghabiskan sang fajar sambil menunggu waktu pagi datang, istriku sunatun umroh juga terlihat sibuk memasukan dokumen-dokumen hasil ujian akhir semester anak kelas 2 mata kuliah kimia umum, yang telah semalaman di rekap untuk kemudian di berikan kepada siswa-sioswanya.
Pagi telah datang ku mulai mengambil berkas-berkas rancangan peraturan daerah yang telah berjejer rapi setelah di siapkan oleh istriku yang shaleh itu, kring-kring –kring nada telepon seluler ku berbunyi dengan kencang memecah kesibukan sang hamba-hamba ilahi yang sedang memungut material yang ia turunkan dari langit dengan bungkus pekerjaan, ku angkat dan ku terima ternyata kabar dari pemimpin fraksi yang menginformasikan bahwa sidang akan di lakukan sesuai dengan jadwal yaitu jam 9.00 wib, seperti biasa sebelum kami berangkat kerja seluruh anggota yang ada ku ajak untuk makan bersama tidak terkecuali mang ana sopir pribadi ku yang sudah ku anggap keluarga sendiri, jam telah berdentang menandakan jam 6 telah di lalui membuat kami menyelesaikan acara makan bersama, tak lupa ku antarkan istriku ke sekolah tempat ia mengajar, sedangkan pak ana ku arahkan ia tuk mengambil arsip yang berada di meja kerjaku di DPD,ku kecup kerning istriku tak kala beliau keluar dari mobil yang ternyata telah di tunggu oleh guru-guru yang lain.
Pagi itu cuaca cerah menemani perjalananku menuju gedung bersejarah yang di bangun pada jaman colonial belanda, siding pun berjalan dengan lancer, dan pereaturan daerah tentang migas itu di terima oleh seluruh praksi yang ada kecuali dari fraksi karya teguh yang walk out dari ruangan siding, setelah siding yang melelahkan itu selesai ku terkejut dengan informasi yang di berikan oleh asisten pribadiku ternyata kawn ku dulu arif hidayat akan menikah jam 1 di sukabumi.
Dengan sangat menyesal ku tarik hp dari kantong selana ku dan pijit nomor mas arif itu , ku kabarkan bahawa hari ini aku tidak bisa datang sebab ada tugas dinas yang harus ku kerjakan di luar kota, setelah sekian lama berbicara akhirnya kawanku yang telah menjadi PNS ini dapat mengerti juga dengan ke adaanku dan ternyata si bungsu adikku lestari nadia juga telah hadir disana dengan orang tua ku.
Siang itu ku bergegas ke sekolah tempat istriku bekerja tuk pamit , sebab ku kan tugas ke luar kota dengan durasi 2 hari di wilayah kabupaten indramayu, dan istriku yang salaeh itu mendoakan ku semoga ku dapat selamat di perjalanan dan pulang ke rumah dengan kehormatan yang tinggi.
Udara panas menyengat kulitku tak kala mobil mulai merangkak setapak-demi setapak di bumi wiralodra ini, namun tak di sangka sesosok perempuan berlari dan menanbarakan badanya ke bagian depan mobil ku, tampa pikir panjang dengan tergesa-gesa ku keluar dari mobil dan ternyata dia adalah akif jannah perempuan yang ku temui beberapa hari yang lalu di kota kembang, sejurus kemudian ku angkat dia dan dengan bantuan dari warga ku bawa ke rumah sakit cahya kawaluyaan, tang tidak jauh berada dari tempat kejadian itu.
Satu jam berselang sang dokter keluar menanyakan keluarga dari korban tersebut guna memenuhi persyaratan administrasi, bingung bercampur sedih ku mulai menawarakan diri dan mengclaim bahwa aku adalah keluarganya, sore itu kami dapat masuk ke dalam ruangan dan dengan hari—hari ku tanyakan perihal kejadian yang terjadi kepada akif yang mulai sadarkan diri, seliau mengatakan bahwa ia telah mengalami kejadian penjamretan yang dilakukan oleh begal kapak merah yang biasa beroperasi di kawasan pantura.
Malu bercampur segan dengan suara terbata-bata ku tanyakan temntang orang yang memegang tangannya beberapa hari yang lalu, dengan lirih beliaun menjelaskan dia adalah suaminya yang telah sekitar 3,5 tahun lalu menikahinya dan pagi tadi rtelah berangkat ke Jakarta untuk keperluan pekerjaan.
Ingin ku hubungi suaminya namun beliau menolaknuya dengan halus, akhirnya cu coba baranikan diri tuk mengantarnya ke rumah orang tuanya yang ternyata tidak jauh hanya 2 jam untuk menuju ke kabupaten noberic, di perjalanan tak terasa pipiku sudah basah melihat adik ku yang tengah terbujur kaku menahan rasa sakit di pinggangnya, dan mungkin ia bingung apa yang harus dikatakan kepada suaminya tentang uang yang tadinya akan di berikan ke pondok pesantren dikala suaminya telah pulang ke rumah.
Senja ituakhirnya ku dapat menamnatkan mobil di depan pintu rumah orang tuanya yang ternyata merupajkan suksesor aku saat hendah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD jawa barat bebetapa waktu yang lalu, ku papah beliau dengan hari-hati dan ku jelaskan kejadian yang menimpanya hingga seisi rumah menumpahkan air matanya.
Dengan sopan ku tanyakan no suami dari adik ku yang malang ini, dan alhamdullilah dari hp ayah nya akhirnya ku dapat menghubungi suaminya yang ternyata telah sampai di ibu kota, untung tak di dapat sial tak dapat di tolah maksud hati ingin menyampaikan kejadian yang terjadi malah perang mulut yang menggema, ku mulai tersadar mungkin revolusi diri yang ku tanamkan kepada akif 4 tahun yang lalu masih belum dapat di terima oleh beliau hingga dengan nada sinis beliau mengatakan bahwa ia akan mempertahankan nya sampai mati, sengan sedikit kesal dan sehih seakan-akan kiamat sudah di depan mata ku coba memberiakn telepon seluler kepada ayahnya, namun itu pun sia-isa entah apa yang sedang merasukinya sehingga semua keluarganya mendapat makian dan cacian.
Dua jam telah berlalu ku mulai sadar bahwa sebenarnya 4 tahun yang lalu sebelum revolusi yang radikal itu sebenarnya apa yang ku lakukan mungkin hanya sekitar 80 % saja sebab soba ku berempati terhadap posisi beliau semkin sakit hati terasa namun, di sisi laim adik ku ini tak mau mengulas kearah sana, nasi tlah menjadi bubur dan tahun silih berganti talh datang akhirnya tampa intervensi pun adikku telah dapat menggapai kesempurnaan iman sebagaimana apa yang beliau cita-citakan.
Pagi yang hangat di teras yang membentang ke depan sawah yang terbentang nan elok seraya menabur pesona melambai-lambaikan tanganya tuk menggoda diriku supaya turun ke sawah nelangkah setapak-demi setapak, melihat kerasnya kehidupan kaum buruh tani yang darahnya semakin kering di hisap oleh lintah darat yang setelah sekian lama menjamur di bumi sunan gunung jati ini.
Di balik kamar yang berukuran kurang lebih 4 x 5 itu muncul sesosok wajah nan ayu mulai mendekati kami yang sedang mengobrol tentang garis poitik ,adik ku akif jannah telah sehat dan sembuh, luka lebam di kaki telah hilang, namun dari raut wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang terpendam yang ingin di katakana, kun mulai menerka-nerka apa yang terjadi apakah yang ada di pikiran belia, senangkah, sedihkah, takut kah atau apapun itu, namun coba ku tanyakan perihal keadaannya sekarang, dengan lirih ia berkata, alhamdullilah baikan a, mau kemana hingga ada di bumi wiralodra itu, dan sekarang kerja dimana?, dengan ringan ku jawab bahwa kedatanganku ke pantura ini untuk menjalankan tugas Negara melacak perjalanan pupuk yang di subsidi oleh pemerintah
Jam berdentang dengan lantang menujukan pukul 8 tlah berlalu, di samping jalan berderet guru-guru yang ltlah siap tuk mengungkapkan rasa bela sungkawa atas kejadian yang telah menimpa adik ku ini.
Siang yang terik membuatku tak kerasan tuk tetap berada di sana, hingga terpaksa ku pamit pulang sebab di bandung istriku sudah menunggu, dan di kampus aku harus menggelar seminar bagi anak-anak angkatan 2015 yang akan lulus, adik ku yang telah sembuh mengantar ku ke depan gerbang pintu keluar rumahnya, dan ia berbisik bahwa ia akan ke bandung lagi tuk melanjutkan s2 di upi, dan tak ragu ku tawarkan untuk tinggal di salah satu rumah ku yang terletak di dekat ledeng untuk di tinggalinya dank u sampaikan bahwa bulan depan akan berkunjung kembali dengan istriku sebab di bulan itu sekolah telah libur.S, aminya yang sedari malam telah datang menyusul ikut mengantarku hingga mobil yang ku kendarai tidak terlihat lagi.
Tiga bulan kemudian coba ku hubungi akif jannah yang, ternyata sedang berada di luar kota, ku jelaskan perihal rencana kedatangan keluargaku ke noberic akhir pecan ini, istriku yang sudah lama mengenal akif tentusaja sangat senang dan jkegirangan sekali sebab dia akan bertemu dengan kawan lama yang telah sekian tahun tidak bertemu.
Akhir pekan yang dinanti akhirnya datang juga,

Minggu, 02 Mei 2010

BANJIR HANTU DI BALIK RINTIKAN HUJAN*

BANJIR HANTU DI BALIK RINTIKAN HUJAN*
Oleh :
Deni Yudistira**

Banjir itulah suatu kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar , hampir setiap musim hujan kata bajir selalu “menghiasi” lembaran media cetak maupun media elektroinik , hampir di setiap kota dan kabupaten di Negara Kesatuan Republik Indonesia banjir selalu menampakan dirinya takala hujan mengguyur, mulai dari simeulu, Mandailing Natal, Palembang, Lampung,Baleendah, bahkan Ibu kota Jakata pun ikut terkena musibah ini.
Banjir bukanlah suatu fenomena alam yang terjadi secara alamiah, namun banjir dapat terjadi akibat dari perilaku manusia, Secara definisi banjir merupakan suatu phenomena yang terjadi dimana air meluber melewati tanggul sungai akibat sungai tidak mampu melaksanakan daya layanannya.
Khususnya di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung banjir terjadi karena tidak terwujudnya konsep “one river, one plan, and One management”, dalam si stem drainase berkelanjutan yang dikelola oleh pemerintah , baik storm water drainage, maupun sewer drainage, hal ini dapat kita amati dari ketidak siapan pemerintah dalam mengendalikan dan menanggulangi sumber daya air yang pada akhirnya berdampak pada ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir.
Sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat berharga Raja Tarumanagara membuatan Somal dan Gomati untuk memperlancar aliran sungai cisadane, dan yang terdekat pada tahun 1810 salah satu alasan pemindahan ibu Kota Kabupaten Bandung yang dulu berada di Karapyak (Dayeuh kolot) menjadi di Soreang, hal ini dilatar belakangi oleh seringgnya terjadi luapan air di sepanjang daerah aliran sungai Citarum. Namun kita seakan lupa dan tidak belajar dari pendahulu kita, 200 tahun telah berlalu namun banjir tetap ada walaupun daerah genangan luapan sungai citarum mulai berkurang dari 13.000 ha tahun 1983, 7.500 ha tahun 1986, dan 542 ha setelah terjadi normalisasi sungai tahap stiu dan dua yang dilakukan tahun 1994-2002.
Kita dapat melihat amukan air sungai Citarum yang meluber di Kecamatan Beleendah merendam 1- 3 meter dan bahkan di kampu ng Cieunteung air menggenang hingga atap rumah, dan tidak hanya itu lebih dari 2 bulan air genangan tidak kunjung surut, dan tentu saja mengakibatkan diffent effect, dimana masyarakat tidak dapat menjalankan aktifitas perekonomia,social dan uyang plaing parah adalah jatuhnya kerugian berupa material mapun nyawa.
Upaya pemerintah berupa normalisasi DAS Citarum tahap satu dan dua yang berlangsung 1994-2002 belum menjadi solusi akhir, dan peningkatan infrasuktur berupa bendungan-bendungan yang direncanakan dapat menelan 100 milyar yang berasal dari APBNP hasil pinjaman dari Asian Development Bank pun tidak akan secara instan menghilangkan bencana ini s ebab akar masalahnya bukan hanya pendekatan struktur saja yang bernuansa proyek, namun kalau kita runut samapai ke akar ternyata akar masalahnya factor manusia dan juga infrastrur

Kondisi SubDAS di Citarum hulu mengalami perubahan yang sangat cepat alih fungsi lahan yang marak baik untuk permukiman maupun pertanian rakyat berimplikasi air akan semakin cepat masuk ke sungai dan tidak hanya itu air yang meluncur akan mengikis tahan dan membawanya kesungai, sampai saat ini paling sedikit dari 771.001 ton/th sedimentasi terjadi
Ditambah lagi ditengah dengan muatan sungai berupa libah rumah tangga baik yang berupa zat cair maupun Benda padat seperti kasur, kursi, sampah masuk kedalam sungai dan di hilir banyaknya bangunan-bangunan yang berada di bantaran sungai yang pada akhirnya mengakibatkan penampang sungai menjadi mengecil.
Oleh karena itu diperlukan suatu upaya yang massif, dan sistematis untuk mengembangkan system drainase yang berkelanjutan yang “terangkai” secara komprehensip antara infrastruktur dan manusia sebagai subjek sekaligus objek dalam managemen pengelolaan sumber daya air, yang diikat oleh Peraturan pemerintah yang dilaksanakan secara real, proporsional, dan bertanggung jawab sehingga banji hantu dibalik rintikan hujan tidak akan terlihat lagi.


*Disajiakan dalam Diskusi Forum Studi Mahasiswa FPTK
** Deni Yudistira DPM HMS FPTK UPI

cv

CURRICULUM VITAE

1. DATA PRIBADI

Nama : Deni Yudistira
Temp/Tgl Lahir : Garut, 18 Desember 1986
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bojong Koneng Lio Rt 03/15 No 99 Kel. Sukapada, Kec. Cibeunying
Kidul Kota Bandung 40125
Telephone ,HP : HP : 085294247784
Status : Belum Menikah

2. PENDIDIKAN

No Jenjang Institusi Tahun
1
2
3
4 SD
SLTP
SMA
UNIVERSITAS SDN Bojong Koneng II Bandung
SLTPN 22 Bandung
SMKN 5 Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia 1993-1999
1999-2002
2002-2005
2005-…..


3. PENGALAMAN ORGANISASI
No Organisasi jabatan Tahun
1
2
3
4
5
6 HMTB FPTK UPI
FKMTSI
HMS FPTK UPI
DPM REMA UPI
GMNI Kom UPI
KMG UPI KetuaAngkatan
Anggota
Ketua Umum
Anggota komisi Sospol
Staff Wakil Ketua Bidang Organisasi
Ketua umum 2005
2005
2007
2008
2008
2008








4. KURSUS DAN PELATIHAN
No Kegiatan Tahun
1
2
3
4
5
6
7 Pelatihan Internet pada Telkom Divre III tahun 2004
Praktek Kerja Lapangan Pada TP. Grha Widya Maranatha
Englis Testing Center
Latihan kepemimpinan Mahasiswa HMTB
Pelatihan Kewirausahaan
Praktek Kerja Industri Pada Graha Putrapanjalu Kota Bandung
Delegasi TW REG FKMTSI WIL VI JABAR-BANTEN 2004
2004
2005
2005
2008
2008
2008

5. SOFTWARE YANG DIKUASAI

- Ms. Office “Ms. Word + Excel+Powerpoint
- AutoCad