LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMBANG*
Siang itu berjejer mobil-mobil menunggu untuk dapat keluar dari kepungan macet, suara klakson berkicauan satu sama lain menandakan bahwa ia sangat tergesa-gesa untuk dapat dengan segera keluar dari kerumunan monbil-mobil tua, nampak di sebelah timur sekitar 10 meter dari pintu kantor yudistira jaya sesosok gadis semampai nan anggun berjalan dengan gemulai berpegangan tangan dengan sang pujaan hatinya, seakan-akan tidak peduli dengan keadaan yang terjadi di sekitarnya, ya ia Adalah akif jannah, seorang guru sekolah menengah tingkat pertama lulusan universitas terkenal di kota bandung, yang telah ku kenal selama hampir 4 tahun sewaktu aku kuliah S1 di universitas pendidikan Indonesia.
Setengah berlari ku dekati dia dan kucoba untuk memanggil-manggil namanya, namun dia hilang tah kemana tertutup oleh opelet tua yang sedang menyeberang , sejurus kemudian ku lihat ternyata dia singgah di sebuat bookstore lima langkah dari tempat ia berdiri, ku kejar lagi ke dalam dan ternyata benar dia kawan yang dulu waktu kuliah di bandung utara.
Kutanyakan perihal nomor HP nya yang sekitar 4 tahun lalu ku coba hubungi tidak aktif-aktif, padahal waktu itu ku sedang berada di dekat desanya di kabupaten noberic yang berada di sebelah utara propinsi jawa barat, rindu yang terbendam di dalam dada serta-merta ku tumpahkan saat itu juga, hingga tak terasa waktu telah menunjukan jam 6 sore, ku bergegas pamit dan tidak lupa meminta no HP nya yang baru, sebab hari itu aku harus bertemu dengan client yang berasal dari ngarames.
Ku perkenalkan diriku terlebih dahulu, aku bernama yudistira deni, lahir di garut besar di bandung dan sekarang bekerja sebagai anggota dewan perwakilan rakyat Provinsi jawa barat, dan mengajar pada dua buah institusi pendidikan tinggi di kota bandung, mengajar Dasar-dasar manajemen, dan mengajar Mejanika teknik 3 di almamaterku dulu.
Malam itu ku merenung mengingat-ngingat kejadian tempo dulu waktu aku masih kuliah, terlintas dimataku tak kala ku sering mengejeknya dengan sebutan dewi tidur sebab bila pulang dari kuliah beliau selalu langsung tidur dan bangun tak kala senja mulai datang, namun satu hal yang membuat air mataku menetes dan membasahi pipiku adalah tak kala ku mengingat beliau ingin menjadi seorang yang totalitas menghambakan dirinya tuk sang ilahi namun ku tak dapat membantunya hingga sampai lulus
Subuh yang cerah ku terbangun dan seperti biasa susu ditambah kopi selalu menemaniku tuk menghabiskan sang fajar sambil menunggu waktu pagi datang, istriku sunatun umroh juga terlihat sibuk memasukan dokumen-dokumen hasil ujian akhir semester anak kelas 2 mata kuliah kimia umum, yang telah semalaman di rekap untuk kemudian di berikan kepada siswa-sioswanya.
Pagi telah datang ku mulai mengambil berkas-berkas rancangan peraturan daerah yang telah berjejer rapi setelah di siapkan oleh istriku yang shaleh itu, kring-kring –kring nada telepon seluler ku berbunyi dengan kencang memecah kesibukan sang hamba-hamba ilahi yang sedang memungut material yang ia turunkan dari langit dengan bungkus pekerjaan, ku angkat dan ku terima ternyata kabar dari pemimpin fraksi yang menginformasikan bahwa sidang akan di lakukan sesuai dengan jadwal yaitu jam 9.00 wib, seperti biasa sebelum kami berangkat kerja seluruh anggota yang ada ku ajak untuk makan bersama tidak terkecuali mang ana sopir pribadi ku yang sudah ku anggap keluarga sendiri, jam telah berdentang menandakan jam 6 telah di lalui membuat kami menyelesaikan acara makan bersama, tak lupa ku antarkan istriku ke sekolah tempat ia mengajar, sedangkan pak ana ku arahkan ia tuk mengambil arsip yang berada di meja kerjaku di DPD,ku kecup kerning istriku tak kala beliau keluar dari mobil yang ternyata telah di tunggu oleh guru-guru yang lain.
Pagi itu cuaca cerah menemani perjalananku menuju gedung bersejarah yang di bangun pada jaman colonial belanda, siding pun berjalan dengan lancer, dan pereaturan daerah tentang migas itu di terima oleh seluruh praksi yang ada kecuali dari fraksi karya teguh yang walk out dari ruangan siding, setelah siding yang melelahkan itu selesai ku terkejut dengan informasi yang di berikan oleh asisten pribadiku ternyata kawn ku dulu arif hidayat akan menikah jam 1 di sukabumi.
Dengan sangat menyesal ku tarik hp dari kantong selana ku dan pijit nomor mas arif itu , ku kabarkan bahawa hari ini aku tidak bisa datang sebab ada tugas dinas yang harus ku kerjakan di luar kota, setelah sekian lama berbicara akhirnya kawanku yang telah menjadi PNS ini dapat mengerti juga dengan ke adaanku dan ternyata si bungsu adikku lestari nadia juga telah hadir disana dengan orang tua ku.
Siang itu ku bergegas ke sekolah tempat istriku bekerja tuk pamit , sebab ku kan tugas ke luar kota dengan durasi 2 hari di wilayah kabupaten indramayu, dan istriku yang salaeh itu mendoakan ku semoga ku dapat selamat di perjalanan dan pulang ke rumah dengan kehormatan yang tinggi.
Udara panas menyengat kulitku tak kala mobil mulai merangkak setapak-demi setapak di bumi wiralodra ini, namun tak di sangka sesosok perempuan berlari dan menanbarakan badanya ke bagian depan mobil ku, tampa pikir panjang dengan tergesa-gesa ku keluar dari mobil dan ternyata dia adalah akif jannah perempuan yang ku temui beberapa hari yang lalu di kota kembang, sejurus kemudian ku angkat dia dan dengan bantuan dari warga ku bawa ke rumah sakit cahya kawaluyaan, tang tidak jauh berada dari tempat kejadian itu.
Satu jam berselang sang dokter keluar menanyakan keluarga dari korban tersebut guna memenuhi persyaratan administrasi, bingung bercampur sedih ku mulai menawarakan diri dan mengclaim bahwa aku adalah keluarganya, sore itu kami dapat masuk ke dalam ruangan dan dengan hari—hari ku tanyakan perihal kejadian yang terjadi kepada akif yang mulai sadarkan diri, seliau mengatakan bahwa ia telah mengalami kejadian penjamretan yang dilakukan oleh begal kapak merah yang biasa beroperasi di kawasan pantura.
Malu bercampur segan dengan suara terbata-bata ku tanyakan temntang orang yang memegang tangannya beberapa hari yang lalu, dengan lirih beliaun menjelaskan dia adalah suaminya yang telah sekitar 3,5 tahun lalu menikahinya dan pagi tadi rtelah berangkat ke Jakarta untuk keperluan pekerjaan.
Ingin ku hubungi suaminya namun beliau menolaknuya dengan halus, akhirnya cu coba baranikan diri tuk mengantarnya ke rumah orang tuanya yang ternyata tidak jauh hanya 2 jam untuk menuju ke kabupaten noberic, di perjalanan tak terasa pipiku sudah basah melihat adik ku yang tengah terbujur kaku menahan rasa sakit di pinggangnya, dan mungkin ia bingung apa yang harus dikatakan kepada suaminya tentang uang yang tadinya akan di berikan ke pondok pesantren dikala suaminya telah pulang ke rumah.
Senja ituakhirnya ku dapat menamnatkan mobil di depan pintu rumah orang tuanya yang ternyata merupajkan suksesor aku saat hendah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD jawa barat bebetapa waktu yang lalu, ku papah beliau dengan hari-hati dan ku jelaskan kejadian yang menimpanya hingga seisi rumah menumpahkan air matanya.
Dengan sopan ku tanyakan no suami dari adik ku yang malang ini, dan alhamdullilah dari hp ayah nya akhirnya ku dapat menghubungi suaminya yang ternyata telah sampai di ibu kota, untung tak di dapat sial tak dapat di tolah maksud hati ingin menyampaikan kejadian yang terjadi malah perang mulut yang menggema, ku mulai tersadar mungkin revolusi diri yang ku tanamkan kepada akif 4 tahun yang lalu masih belum dapat di terima oleh beliau hingga dengan nada sinis beliau mengatakan bahwa ia akan mempertahankan nya sampai mati, sengan sedikit kesal dan sehih seakan-akan kiamat sudah di depan mata ku coba memberiakn telepon seluler kepada ayahnya, namun itu pun sia-isa entah apa yang sedang merasukinya sehingga semua keluarganya mendapat makian dan cacian.
Dua jam telah berlalu ku mulai sadar bahwa sebenarnya 4 tahun yang lalu sebelum revolusi yang radikal itu sebenarnya apa yang ku lakukan mungkin hanya sekitar 80 % saja sebab soba ku berempati terhadap posisi beliau semkin sakit hati terasa namun, di sisi laim adik ku ini tak mau mengulas kearah sana, nasi tlah menjadi bubur dan tahun silih berganti talh datang akhirnya tampa intervensi pun adikku telah dapat menggapai kesempurnaan iman sebagaimana apa yang beliau cita-citakan.
Pagi yang hangat di teras yang membentang ke depan sawah yang terbentang nan elok seraya menabur pesona melambai-lambaikan tanganya tuk menggoda diriku supaya turun ke sawah nelangkah setapak-demi setapak, melihat kerasnya kehidupan kaum buruh tani yang darahnya semakin kering di hisap oleh lintah darat yang setelah sekian lama menjamur di bumi sunan gunung jati ini.
Di balik kamar yang berukuran kurang lebih 4 x 5 itu muncul sesosok wajah nan ayu mulai mendekati kami yang sedang mengobrol tentang garis poitik ,adik ku akif jannah telah sehat dan sembuh, luka lebam di kaki telah hilang, namun dari raut wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang terpendam yang ingin di katakana, kun mulai menerka-nerka apa yang terjadi apakah yang ada di pikiran belia, senangkah, sedihkah, takut kah atau apapun itu, namun coba ku tanyakan perihal keadaannya sekarang, dengan lirih ia berkata, alhamdullilah baikan a, mau kemana hingga ada di bumi wiralodra itu, dan sekarang kerja dimana?, dengan ringan ku jawab bahwa kedatanganku ke pantura ini untuk menjalankan tugas Negara melacak perjalanan pupuk yang di subsidi oleh pemerintah
Jam berdentang dengan lantang menujukan pukul 8 tlah berlalu, di samping jalan berderet guru-guru yang ltlah siap tuk mengungkapkan rasa bela sungkawa atas kejadian yang telah menimpa adik ku ini.
Siang yang terik membuatku tak kerasan tuk tetap berada di sana, hingga terpaksa ku pamit pulang sebab di bandung istriku sudah menunggu, dan di kampus aku harus menggelar seminar bagi anak-anak angkatan 2015 yang akan lulus, adik ku yang telah sembuh mengantar ku ke depan gerbang pintu keluar rumahnya, dan ia berbisik bahwa ia akan ke bandung lagi tuk melanjutkan s2 di upi, dan tak ragu ku tawarkan untuk tinggal di salah satu rumah ku yang terletak di dekat ledeng untuk di tinggalinya dank u sampaikan bahwa bulan depan akan berkunjung kembali dengan istriku sebab di bulan itu sekolah telah libur.S, aminya yang sedari malam telah datang menyusul ikut mengantarku hingga mobil yang ku kendarai tidak terlihat lagi.
Tiga bulan kemudian coba ku hubungi akif jannah yang, ternyata sedang berada di luar kota, ku jelaskan perihal rencana kedatangan keluargaku ke noberic akhir pecan ini, istriku yang sudah lama mengenal akif tentusaja sangat senang dan jkegirangan sekali sebab dia akan bertemu dengan kawan lama yang telah sekian tahun tidak bertemu.
Akhir pekan yang dinanti akhirnya datang juga,
Jumat, 21 Mei 2010
LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMBANG*LEMBAYUNG TERBIT DI SENJA KOTA KEMENJA KOTA KEMBANG*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar